Tentang Banyak Hal

Kebebasan…..!: Pelajaran dari Emakku!

Jujur saja, kebebasan kadang terlalu rumit untuk didefinisikan. Ah, letakkan saja buku-buku tebal, Isiah Berlin, Rawls, Habermas atau siapa lah. Letakkan, sekali lagi letakkan. Mari kita sederhanakan definisi kebebasan berdasar pengalaman hidup dengan berjumput2 anugrah di dalamnya.

Saya mengenal kebebasan dari Emak tentu dengan bahasa yang lain. Emak-ku bukanlah lulusan universitas, bahkan universitas terburuk sekalipun. Berilah dia sebuah koran, mungkin akan kebalik, sebab dia tak bisa membaca. Mungkin bisa, mengenali huruf TVRI (itu pengalaman-ku melihat Emak mencoba mengeja huruf saat nonton tivi). Emak juga tak bisa lancar berbahasa Indonesia—teringat saat dia mengatakan “iki jangan kambing…ayo dimaem..(ini soup kambing, ayo dimakan)”, pas lagi memberikan suguhan temenku yang kebetulan main, dan tak bisa bahasa Jawa. Kontan saja, temanku kaget, kok ga boleh makan Kambing..hihhii.

Mak, jelas orang bodoh dalam kategori2 orang modern/orang kota. Setiap hari yang dilakukan hanyalah berpikir mencari uang dan merumat anak-anaknya, dia tak pernah tahu anak-anaknya membaca apa, buku-buku apa, beraktivitas apa, sekali lagi tak tahu.

Saat masih MI/SD dulu, aku masih belajar membaca dan menulis, dia selalu menungguiku sembari “mbunteli krupuk” atau “ngiris sayuran”, dia tak tahu, dan tak bisa mengajari aku, tapi dia senang sekali bisa menemani anaknya belajar. Saat MI beberapa kali aku juara kelas, dan Emak tak tahu apa makna juara kelas yang dia tahu ya…”anak yang baik adalah anak yang mau membantu dia, dan berprilaku baik dengan lingkungan sekitar”.

Dulu saat SMP kelas dua, pertamakalinya aku membaca buku Dunia Shopie, sebuah buku yang mampu merubah hidupku. Sekali lagi Emak tidak pernah melarang, bahkan diam-diam aku membaca buku2 soal agama lain, pun emak tidak tahu dan membiarkan saja. Saya masih ingat, aku membaca sejarah Yesus yang aku pinjam dari perpustakaan IPNU dekat rumah. Entah dari mana, kok ada buku semacam itu. Lalu saat SMP kelas tiga, aku pun membaca Michel Heart, seratus tokoh yang berpengaruh dalam sejarah, dari situlah aku tertarik banyak hal. Mak tak tahu..

Sedari kecil, keluargaku memberikan iklim sangat liar dan bebas. Kita bisa kapan saja pulang, kita bisa kapan saja pergi, tak perlu pamit. Aku dan kakak-ku bisa saja memanggil temen2nya untuk tidur di rumah, tanpa minta izin dia, makan di dapur tanpa izin dia, asal nasi dan laukny ada. Aku melihat banyak temen2 biasa masuk kamar kami, tanpa ragu..

Saat-saat malam datang, aku biasa di rumah begadang, membaca buku atau apa saja, dan sekali lagi Emak tak pernah melarang. Emak hanya memberi fasilitas, perihal contain atau kegiatan itu terserah anak-anaknya. Sebab itulah tugas dia!.

Setiap anak berhak menentukan nasibnya sendiri-sendiri. Setiap orang berhak menikmati  hak masa depannya, menanggung dosa-dosanya, menangung apapun itu. Dan orang tua hanyalah memfasilitasi. Dan…God thanks for having Emak like her….

Dengan kebebasan yang diperoleh, aku pun melakukan semuanya dengan sesuka hati, aku gembira saat mengaji sore, gembira dengan mengikuti ngaji kitab kuning di masjid, gembira dengan mengikuti pendidikan di diniyah wustho dekat rumah: belajar nahwu, shorof, menghafal alfiyah, dan berbagai kegiatan santri yang lainya. Begitupula, menjadi aktipis pemuda kampung  IPNU..semua aku jalani tanpa paksaan.

Saat kuliah di jogja, aku baru merasakan. Ada temenku yang semsetinya suka sastra, tapi dipaksa emaknya masuk HI, ada yang pingin masuk ilmu politik, tapi musti ngambil ilmu perminyakan karena menuruti orang tuanya yang pegawai Pertamina. Saat mahasiswa aku juag menyaksikan orang2 kota yang takut pulang malam, yang selalu minta izin kalau mau pergi. Haduh!.  Ada juga yang tak bisa leluasa masuk rumah dan bahkan dibatasi pergaulanya dengan siapa. Hihihihi!. Aneh!

Sekarang aku paham, makna kebebasan yng aku dapat dari emak. Betapa nikmatnya kita menanggung diri kita sendiri, menangung apa yang kita perbuat!. Kalau memang saya sesatl, biarlah sesat Tuhan yang menghukum…

Kalau memang hasil yang aku capai itu sedikit, taruhlah, itu nikmat sekali, sebab sebelum aku mendapatkan sedikit itu, blepotan penuh kringat. Nah, nikmatnya hidup itu di sana,blepotan!. Kadang aku malu, minimal pada diri sendiri, mendapatkan sesuatu yang tak pantas. Misal…mendapatkan uang banyak tapi kerjanya dikit, missal lagi tidak melakukan sesuatu tapi mendapatkan kridit dari hal itu…

Aku harus berterimakasih pada Emak. Yang memberiku kebebasan, yang memberiku kemandirian. Sejak awal kuliah, dia tak pernah mengeluh anaknya di jogja, sendiri: menjadi takmir masjid, menjadi aktipis, , menjadi tukang dobos semua yang nanggung diriku. Dia juga tak pernah membanding2kan hasil yang aku dapat dari kakak-kakaku. Kakaku ada yang duitnya banyak, anakku ada yang jadi politisi, duitnya banyak. Sekali lagi dia tak pernah menilai-ku dari hasil yang aku dapatkan.

Yang idah dari hidup ini bukanlah hal2 besar: mengajar di sebuah plosok desa, blepotan mengajar anak2 miskin di kolong jembatan, blepotan organizing difabel di kota-kota, blepotan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi yang lainnya. Tak butuh kridit dri orang lain tentunya, tak butuh popularitas. Sebab Keindahan itu ada dalam diri, keindahan dalam ada dalam hati. Seperti Emak yang selalu senang dengan uang sedikit, tapi dia begitu bangga karena dalam sedikit itu aku blepotan, dan indah dalam hatinya.

Bisa ga sih kita bebas “mengejar kredit” dari orang lain untuk kita, mengejar popularitas, mengejar kesuksesan, mengejar sesuatu yang membuat kita dipandang orang lain menjadi hebat. Bebas dari itu….Ya..menemukan keindahan dalam diri sendiri…seperti Romo Mangun yang turun ke Kali Code, dengan begitu dia menemukan ke-indahan. Then What are you going to do  to get your keindahan dalam hatimu? Do you agree with blepotan?

Betapa nikmatnya makan di pinggir jalan, sendiri sehabis solat ashar, menunggu bis. Betapa nikmatnya bersama temen2 difabel makan bersama, bercanda bersama, sambil gosip2 hihihihi. Dan betapa nikmatnya menanggung hidup kita sendiri, tanpa tergantung orang lain, menikmati karya sendiri tanpa peduli ejekan orang lain: gak gaul lah, gak keren lah..hihihih! .

Catatan eskpresi rindu kampung dan rindu temen2 difabel….

Advertisements

4 responses to “Tentang Banyak Hal

  1. halo amex..wah, aku baca dunia sophie waktu smp juga dan hasilnya : aku ra dong, tekan saiki ketoe…haha…baru ngeh kalau dirimu aktipis IPNU..nice blog !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s