Gus Dur Sebagai Semangat?

Salmet Thohari

 Indonesia, khususnya kaum santri yang berafiliasi ke  Nahdlatul Ulama (NU) telah banyak berhutang pada Gus Dur. Gagasan dan pemikirannya dalam bidang keagamaan, sosial, budaya dan politik banyak mengubah dan mengilhami generasi muda (NU) dalam melakukan perubahan perihal pluralisme, toleransi, dan menjaga keragaman Indonesia dalam bingkai kesatuan yang harmonis.

 Generasi muda NU adalah kelompok yang paling banyak “diuntungkan” oleh Gus Dur, visi humanisme dan sikap keagamaan yang terbuka menjadi pemantik bagi generasi muda NU untuk membuka pikiran-pikiran baru bagi mereka. Gus Dur ibarat pintu gerbang bagaimana generasi muda NU bersikap terbuka dalam ber-kebudayaan dan bagaimana menjadi Indonesia. Berbagai komunitas anak muda NU dengan mengusung pemikiran progresif yang tumbuh berbagai daerah diilhami oleh pemikiran Gus Dur.

 Jelasnya, Gus Dur adalah “cultural broker” bagi anak muda NU. Pemikiran-pemikiran revolusioner dari Barat dan pemikiran-pemikiran kritis dari Timur Tengah dalam memahami agama,yang dahulunya kurang begitu akrab kini sedemikian digandrungi oleh anak muda NU. Legasi yang ditinggalkan oleh Gus Dur sangat kuat, hingga tak bisa dipungkiri, hampir mayoritas aktivis, akademisi, dan politisi yang berlatar belakang NU sering menjadikan Gus Dur sebagai sumber inspirasi dan bahkan panutan.

 

Sebagai Narasi Besar

Meski demikian, tanpa bermaksud mengabaikan kebesaran Gus Dur, apa yang dilakukan oleh kaum muda NU selama ini mengarah pada kondisi involusi. Mereka bergerak dalam jalur di mana Gus Dur selalu menjadi bayang-bayang. Reproduksi gagasan Gus Dur terus menerus dan terkesan berlebihan yang diekpresikan dalam apresiasi pemikiran Gus Dur dalam berbagai penafsiran tentu sangat kurang baik bagi perkembangan anak muda NU. Berbagai ulasan dalam sosial media, seminar, media, buku maupun tulisan-tulisan di media yang lahir dari anak muda NU seperti terus saja bersorak gembira dengan pemikiran Gus Dur, perihal inklusifitas, toleransi, ekonomi, politik, sastra, budaya, dan berbagai topik lainnya.

Bahkan seringkali aktivitas Gus Dur dalam politik dan kehidupan sehari-hari pun tak luput dari tafsiran-tafsiran yang dilakukan oleh Gus Durian-Gus Durian (sebutan untuk pengikut Gus Dur). Sehingga banyak hal-hal kecil dari aktivitas sehari-hari yang mungkin oleh Gus Dur dianggap remeh-temeh dan tak dimaksudkan penting dan serius, menjadi sedemikian berharga dan mempunyai makna yang dashyat oleh anak-anak muda NU. Lalu, Gus Dur pun menjadi “ideal type” dalam pemikiran dan gerakan untuk banyak hal. Menjadi horison dan narasi  besar yang selalu membayangi diskursus anak muda NU.

 Corak yang demikian sepertinya memang lazim di Indonesia. Jauh sebelum Gus Dur, Soekarno bagi kelompok Nasionalis adalah ‘manusia super’ yang mampu menjawab segala permasalahan. Kutipan-kutipan Soekarno seringkali hadir dalam berbagai bidang yang terkadang di luar konteks sejarah pernyataan sukarno lahir. Gagasan-gagasan kebangsaan, kemanusiaan, dan nasionalisme sepertinya kurang sah, jika tanpa melalui Soekarno.

 Hal yang senada juga Gus Dur, pandangan humanisme dan pluralisme, selalu saja lebih legitimate ketika melewati Gus Dur. Hingga Gus Dur pun hadir dalam berbagai topik perihal pembaharuan negeri ini: demokrasi, keadilan gender, ketenaga-kerjaan, lingkungan, pendidikan, kerukunan umat beragama dan masalah-masalah lainnya.  Sebagaimana kalangan muslim yang selalu merasa istimewa dengan mendefinisikan konsep islami: bersih, rapi, tidak korupsi, rajin, jujur, adil dan seterusnya. “Barat lebih Islami dari negara-negara Islam”, demikian kalimat yang sering terdengar di masyarakat. Bukankah kebersihan, keadilan, dan kejujuran adalah prinsip-prinsip kebijaksanaan dan kebaikan yang bisa ditemukan tanpa melalui Islam? Perinsip-prinsip universal yang mudah saja ditemukan dalam berbagai kebudayaan dan pemikiran-pemikiran mapun hasil tafakur para filsuf.  Bukankah prinsip-prinsip kebaikan yang ada di Gus Dur bisa ditemukan tanpa melalui Gus Dur?

 

Sebagai Semangat

Immanuel Kant filsuf modern Jerman menunjukkan kita akan inti sari gugusan besar bernama modernitas: Sapere Aude!. Lalu Madzhab Frankrut, Adorno, Max Horkheimer dan Habermas memperingatkan kita bahaya dominasi modernitas yg hilang dari semangat awalnya. Modernitas telah melenceng menjerumuskan manusia dalam sikap ketertupan hingga kehilangan nalar kritis dan emansipatoris. Meski demikian, modernitas tak harus ditolak, akan tetapi ada yang harus dipungut dari semangat modernitas sedari awalnya: sapere aude, dare to know, dare to be wise, atau secara gamblangnya, bebaskan manusia menjadi manusia, berani berpikir, menjadi diri sendiri!.

 Dalam konteks bagaimana generasi muda NU menyikapi Gus Dur, bukankah dunia ini sedemikian lebar terbuka, terang benderang untuk dipelajari perihal apa saja? Sebagaimana modernitas, Gus Dur mengajari dan menuntun untuk meninggalkan banyak hal yang lebih mencerahkan. Akan tetapi, warisan dari Gus Dur tersebut hanyalah pemantik hingga generasi muda NU dapat membuka jalan-jalan lain yang tak harus sama dengan jalan yang ditempuh. Gus Dur adalah refrensi dari segudang refrensi yang dapat dimasak untuk menjadi manusia yang selalu berusaha mencari jawaban akan kehidupannya.

Jelasnya, Gus Dur adalah semangat, semangat bagaimana dia melakukan pendobrakan, sehingga anak-anak muda NU melanjutkan pemikiran-pemikirannya sendiri, tanpa harus membawanya sebagai cerita besar yang selalu membayangi.  Gus Dur mesti dilihat sebagai orang yang tak pernah memberikan ajaran perihal kebenaran, tapi bagaimana memberikan inspirasi setiap individu berdinamika menemukan apa yang diyakini sebagai kebenaran. Gus Dur adalah semangat, dengan kata lain Gus Dur sebagai kata sifat bukan kata benda yang harus dilahap. Sebab, yang patut dilahap kan Jus durian, bukan Gus Dur 😀

 

Slamet Thohari

Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya, Malang 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s