Seperti Dulu

 

Dulu sekali, saat deodoran adalah kemewahan bagiku, dan saat sliliden adalah hal yang istimewa, sebab makan daging terlalu mahal untuk uang di dompetku. Aku sering duduk sendiri, membaca buku di perpustakaan yang juga “rumahku”. Di sana, di perpustakaan UPT II UGM. Meski tak ada rembesan air mata, aku sering di sana, menaklukan malam atau merasakan perjalanan hidup yang sesekali melelahkan kalau dirasakan. Lalu hati pun bergetar, culas dan landepnya hidup bener-bener menusuk.

Aku duduk di lantai empat. Melihat ke bawah. menyaksikan banyak hal. Ada jalan-jalan yang memanjang, berkelok-kelok. Ada kernet bis, ada pedagang kaki lima, ada mahasiswa yang membawa tas, ada orang naik motor dan apa saja. Hingga kemudian aku pun bertanya “apakah mereka sedang ditempa kesusahan dan masalah?”. Sepertinya “iya”. Dan aku tidaklah sendiri, aku tak pernah sendiri tak ada usaha sistimatis dari alur kehidupan sedang berprilaku culas, tak ada hujan pisau yang menusuk dadaku. Aku hanya perlu memperlebas dadaku, lebar bagai daun  talas, di depan rumahku di kampong. Segar setiap pagi memangku embun sisa semalam.

Ini untuk kesekian kalinya, aku duduk sendiri di sebuah warung kopi dekat terminal Bungur Asih Surabaya. Duduk sendiri bercakap-cakap dengan tukang kopi sambil memesan indomie rebus. Aku amati bus yang berlalu lalang, membawa orang-orang yang sibuk dengan masalahnya. Dan memang beginilah perjalanan hidup ini. Mie rebus di sebuah malam habis magrib, bisingnya lalu lintas dan orang-orang yang entah ngapain mereka. Mungkin sepertiku! Aku hanyalah bagian dari mereka. Mie rebus ini tak ada bedanya dengan makanan mahal di mall yang baru saja aku lewati.

Dulu sekali, makanan enak itu pas di makan di sawah. Aku ingat betul, sewaktu masih kecil, Bapaku mendudukanku di sebuah tegalan, lalu dia mencakul di sawah, panas sekali. Lalu beberapa jam kemudian, ibu datang denga makanan ala kadarnya. Nasi, kuluban atau godangan, tempe goreng dan ikan sepat yang digoreng. Enak! J

Banyak orang yang takut akan mara bahaya dalam mengarungi perjalanan ini, tapi kita tak mungkin berlari menghindar dari perjalanan ini. Lalu, hatiku mesti diasah lagi, ditempa lagi, agar kuat menghadapi perjalanan berikutnya.

Mungkin begini, aku tak perlu takut menghadapi apapun itu. Lalu aku meneguk air putih, sejak tadi menelan ludah dan mengusap wajah. Terimakasih atas kehidupan dengan segala perjalanan yang kita jumpai.

 

Advertisements

2 responses to “Seperti Dulu

  1. Saya suka sekali membaca tiap tulisan dari Mas Amex ini. Sering menyentuh hati saya. Dan banyak hal dari Mas Amex ini yang bisa memotivasi diri saya. Terima kasih, Pak Dosen.
    Saya mahasiswa UNS yang juga sedang berproses dan berjuang di PMII. Salam pergerakan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s