Harun Yahya, Sains dan Tindakan “Pulitis” Agama

Agama selalu hadir bersifat pulitis . Memberikan angan-angan tentang dunia jauh yg lebih menyenangkan dari dunia sini yang ada gempa, tsunami, macet, kemiskinan, ditinggal pacar, sulit membayar hutang, ataupun untung besar dari bisnis yang dijalankan dengan curang: Syurga, Neraka dan seterusnya. Ini terkait ketidakmampuan manusia itu sendiri dalam menjawab dan melihat apa-apa yang dijumpai. Lalu pantaslah jika agama bersifat tidak tunggal, berjamak, karena sekali lagi, merupakan produk dari eksistensi manusia menemukan diri. Tak ada penelitian dalam merumuskan agama. Sebab sekali lagi, agama bersifat kedirian, yang oleh beberapa orang dihembuskan secara sistematis: mengumpulkan hal yang dianggap benar dan mengenyahkan yang tidak mendukung. Inilah apa yang saya sebut sebagai tindakan pulitis.

Ilmu pengetahuan merupakan punggung utama peradaban manusia. Blog ini merupakan produk ilmu pengetahuan, begitu pula dengan komputer. Bukan hasil solat tahajut para sufi, atau doa para Rabi saat Pass-over. Ilmu pengetahuan, demikian kata Stephen Hawking, yang difabel itu, merupakan gugusan kebenaran yang hanya dapat diruntuhkan oleh ilmu pengetahuan yang lain. Kenapa? Sebab proses kebenaran yang diperoleh melalui observasi dan riset, sedang agama ditentukan oleh kumpulan perasaan diri dan eksistensialis diri individu maupun kelompok. Untuk itu, agama tak butuh metodologi yang bersifat universal, jika anda cocok, sesuai dengan diri anda berhak memungutnya menjadi keyakinan. Itu hak setiap individu.

Keduanya adalah hal yang berbeda. Meski demikian, ada usaha “kolonisasi” yang dilakukan oleh kepercayaan individu (agama) terhadap sains, contoh yang paling lugas adalah apa yang dilakukan oleh Harun Yahya. Dan tentu ini adalah salah satu contoh bagaimana tindakan pulitis untuk meneguhkan sesuatu yang belum tentu benar.

Harun Yahya sesungguhnya bukanlah nama orang melainkan nama sebuah organisasi atau kelompok di mana Adnan Oktar menjadi ideolognya. Kehadiran Sains Islam yang diperkenalkan Harun Yahya mendapatkan banyak apresiasi. Puncaknya pada tahun 2010, Adnan Oktar dipilih sebagai 1 dari 500 Muslim Paling Berpengaruh di dunia oleh Royal Islamic Strategic Studies of Jordan. Banyak pihak menyebutnya sebagai salah satu ilmuwan muslim di dunia.

‘Ilmuwan’ muslim adalah istilah yang sangat menarik bagi saya. Apa itu ilmuwan? Saat kita masih duduk di bangku SMP, kita diajarkan mengenai metodologi ilmiah. Pendeknya kita bisa mendefinisikan ilmuwan sebagai orang yang bekerja dengan metode ilmiah. Secara sederhana metode ilmiah dimulai dengan menetapkan hipotesis, melakukan eksperimen dan observasi kemudian menarik kesimpulan. Sedang agama adalah urusan pribadi, kepercayaan yang tak perlu riset, mendarah daging, dalam diri, sehingga sangat pribadi. Haruskah ada sains kristen, islam, zorester, pagan, hindu, dan lainnya? Tentu tidak. Sebab ilmu pengetahuan mempunyai sifat yang berbeda, agama bersifat kontekstual sedang sains bersifat universal. 5 +5 di manapun akan 10, sedang agama antara Islam di Maroko berbeda dengan Islam di Nusantara. Teman Anda yang di Iran percaya bahwa Ali adalah pewaris syah kenabian setelah Muhamad. Temanku Wahabi dari Arab menghukum saya sebagai musyrik karena kerap ke kuburan sunan Kudus.

Sekarang kita lihat bagaimana Harun Yahya menulis. Apakah tidak aneh melihat seseorang yang belum pernah memasuki laboratorium, belum pernah memeriksa fosil, ataupun mempelajari biokimia tahu-tahu menulis buku tentang evolusi lengkap dengan sanggahan-sanggahannya hingga orang awam-pun terpesona mengiyakan. Salah satu argumen Harun Yahya yang populer dalam bukunya adalah jika benar organisme atau makhluk hidup berevolusi, maka di manakah spesies yang berada di tahap penyempurnaan, di manakah spesies peralihan? Bukti fosil tidak menemukan adanya fakta itu. Padahal Evolusi terjadi secara gradual dalam jangka waktu yang panjang. Gradien perubahan sangat tipis dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Untuk setiap gradient evolusi perbedaan yang ada dengan gradient sebelumnya sangatlah tipis.

Argumen salah mengenai evolusi organ tubuh juga disodorkan, kesempurnaan mata menunjukkan bahwa mata tercipta secara seketika. Harun Yahya mengulas bahwa mata adalah bukti bahwa struktur diciptakan sebagai struktur, bukan melalui evolusi: ini adalah bukti penciptaan. Kita bisa melihat Sang Pencipta disini. Tidak ada mata yang tercipta secara bertahap, apa gunanya separuh mata? Sambil menyangkal teori evolusi, Harun Yahya mulai memaksakan pendapatnya tentang bagaimana ‘cara’ Allah mencipta dan menyususun semesta. Allah tidak boleh menjalankan semesta sesuai dengan yang dideskripsikan oleh Teori Evolusi. Secara kuantitas 50% jelas lebih baik dari 49%. Mata kita yang telah kita anggap sempurna 100% ini mungkin hanya separuh atau seperempat dari mata spesies mendatang. Sains modern menunjukkan bahwa mata justru menyimpan bukti evolusi gradual.

Jika kita melihat ke ekosistem bawah laut, bukti evolusi gradual juga bisa terlihat. Di palung-palung samudera pasifik. Hewan-hewan yang sepenuhnya berkemosintesis, hanya dijalankan oleh bakteri, memanfaatkan panas dari lubang-lubang vulkanis jauh di bawah palung Pasifik. Mereka melakukan metabolisme terhadap sulfur bukan oksigen. Bagaimana spesies-spesies ganjil ini berevolusi dan melalui tahap peralihannya. Jawabannya ada pada variasi gradient dan kondisi lautan. Tekanan atmosfir hanyalah bilangan kuantitatif, tekanan 1000 atmosfir lebih besar 999, 999 lebih besar dari 998 atmosfir dan seterusnya.

Eksosistem dasar laut menyajikan gradient kedalaman mulai dari 0 kaki hingga 33.000 kaki, dengan gradasi tekanan mulai dari 1 atmosfir sampai di atas 1000 atmosfir di kedalaman. Intensitas cahanya juga bervariasi mulai dari terang benderang di permukaan sampai kegelapan total di kegelapan. Semua bervariasi secara halus tanpa patahan yang tajam. Untuk setiap kedalaman, tekanan, dan intensitas cahaya, dengan beradaptasi hanya diperlukan rancang bangun spesies yang sedikit berbeda dengan yang sudah ada, yang mampu bertahan sedepa lebih dalam, selumen lebih gelap dalam tekanan satu atmosfir lebih tinggi dan seterusnya.

Agaknya Harun Yahya sendiri sebenarnya juga kesulitan mehamami Teori Evolusi Darwin dengan Teori Abiogenesis serta bagaima Evolusi terjadi. Abiogenesis membahas kemungkinan asal mula mahkluk hidup sedangkan Evolusi membahas bagaimana keragaman makhluk hidup tercipta dari makhluk awal di muka bumi. Harun Yahya juga salah menjadikan bukti penemuan ikan Coelacanth sebagai salah satu bukti runtuhnya Teori Evolusi. Dalam Teori Evolusi evolusi terjadi secara bercabang dan tidak linear, karenanya sangat mungkin spesies yang lebih purba dapat hidup berdampingan dengan spesies modern. Spesies purba bisa saja mengalami perlambatan evolusi apabila system biologisnya sudah cukup sesuai dengan lingkungan tempatnya hidup dan bertahan hingga zaman modern. Proses mutasi juga diklaim Harun Yahya sebagai sesuatu yang selalu negatif, padahal mutasi bisa bersifat merugikan, netral atau bahkan menguntungkan. Mutasi warna pada kupu-kupu Biston betularia karena asap limbah industri adalah contoh mutasi netral dan resistensi hama terhadap pestisida adalah contoh mutasi positif. Kesalahan argumen mendasar dari Harun Yahya yang lain adalah mengenai perkembangan organism yang bersifat acak. Teori evolusi sendiri menekankan bahwa proses evolusi tidak terjadi secara murni acak melainkan secara acak kumulatif. Teori evolusi sendiri oleh Harun Yahya diartikan secara sempit sebagai teori yang menjelaskan bahwa manusia berasal dari kera. Meskipun sesungguhnya Darwin sendiri tidak pernah menyebutkan bahwa manusia berasal dari kera.

Jika kita mengikuti perkembangan Teori Evolusi kita akan mengetahui bahwa Teori Evolusi yang sekarang sudah tidak lagi identik dengan Darwin, teori evolusi telah menjadi sangat kompleks. Dikaitkan dengan bahasan soal DNA, teori game, memetika dan lain sebagainya, yang kesemuanya tidak pernah dikenal oleh Darwin sendiri. Diperlukan berjilid-jilid buku besar untuk menjelaskan teori evolusi masa kini. Bahkan seorang mahasiswa biologi perlu beberapa semester untuk mengetahuinya. Teori evolusi masa kini berbeda dengan Teori Evolusi Darwin. Sama seperti teori medan masa kini yang berbeda dengan Teori Maxwell abad XIX. Hanya saja, dalam kasus ini sayangnya, namanya tidak berubah.

Beberapa pihak meng-klaim bahwa tulisan Harun Yahya adalah sesuatu yang ilmiah. Namun terlepas dari kealpaan metodologi ilmiah, serta kasus kesalahan ilustrasi umpan pancing yang disebut serangga dan kesalahan argumen yang diajukan Harun Yahya, etika literatur Harun Yahya tidak bisa merujuk kepada apa yang disebut ilmiah. Etika literatur menunjukkan apa yang boleh yang dirujuk dan apa yang tidak boleh dijadikan rujukan serta bagaimana cara merujuk yang baik. Kita tidak boleh mengutip sebagian tulisan yang mendukung pendapat kita dan membuang yang tidak sesuai. Ini sama halnya dengan melakukan pemelintiran. Rujukan juga tidak boleh digunakan untuk mengarahkan opini pembaca apalagi tanpa memperhatikan konteks kalimta yang dirujuk. Ini yang terjadi pada Harun Yahya, hingga timbul sejumlah kasus ilmuwan yang keberatan setelah tulisannya dikutip Harun Yahya karena konteks pertanyaan jadi berubah dari yang semestinya. Inilah yang terjadi bila ada kolonisasi kebenaran individu dalam ilmu pengetahuan.

Harun Yahya maupun Adnan Oktar tidak pernah menulis di jurnal ilmiah peer-review, tulisannya hanya merupakan tulisan populer. Tulisan populer sendiri tidak bisa digunakan sebagai referensi untuk kepentingan akademis. Maka menjadi fenomena yang mengherankan ketika buku-buku Harun Yahya digunakan untuk kepentingan referensi akademis di universitas-universitas dan sekolah-sekolah. Apalagi sebagai referensi akademik penulisan skripsi sarjana. Relakah generasi kita akan memakan sains yang bias kepentingan pulitik ini?

Kesalahan lain yang dilakukan Harun Yahya adalah menggunakan ayat suci untuk membahas sains, sebuah prakonsepsi. Ilmuwan sejati tidak mengunakan cara kerja prakonsepsi. Ilmuwan dituntut untuk memiliki kejujuran intelektual. Semua fakta sains yang didukung data yang diperoleh melalui riset harus dapat diterima sekalipun fakta tersebut bertentangan dengan dogma yang dipercayainya. Terlebih dengan menuding Teori Evolusi sebagai teori atheist di mana Darwin adalah biangnya materialisme. Di dalam sains, kita harus berpendapat tanpa menyebut pihak yang berseberangan sebagai kafir atau semacamnya. Dan sekali lagi ini lah tindakan mepublikan yang privat yang privatkan yang publik. Agama sebagai urusan pribadi kembali diungkit sebagai dasar kesalahan atas temuan teori ilmiah.

Kesimpulan Darwin soal evolusi tak pernah diperuntukkan dengan sengaja karena untuk menyerang agama, namun kesadaran akan pentingnya penemuan-penemuan ilmiah, bertentangan ataupun berkesesuaian dengan agama, itu tidak penting penting. Sebab ilmu pengetahuan digerakkan oleh hasrat untuk mengetahui. Itu saja.

Salah satu hal yang membuat buku-buku Sains Islam semacam buku-buku Harun Yahya sulit ditolak adalah ada pada cara penyebarannya. Sama seperti bagaimana sebuah kepercayaan disebarkan, dimulai dengan hal yang baik seperti moralitas yang tak dapat disangkal oleh siapapun kemudian didukung oleh hukum-hukum primer, kemudian hukum-hukum sekunder, standarisasi, konsensus pilihan dan berakhir dengan pematahan pendapat. Demi moralitas dan level ketakutan tertentu, masyarakat akan terus memberikan dukungan. Masyarakat harus belajar beragama dengan ikhlas, kuat, bersih dan penuh kasih sayang untuk terlepas dari fraud Harun Yahya. Jika tidak, fraud-fraud yang lain akan terus bermunculan, seperti halnya kemunculan buku Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf yang berjudul ‘Matahari Mengelilingi Bumi’. Tulisan mengenai sebuah kepastian Al Qurán dan as-Sunnah serta bantahan terhadap Teori Bumi Mengelilingi Matahari yang disebut-sebut best seller.

Menuliskan buku sains yang dipenuhi ayat Al Qur’an sebenarnya bukanlah suatu kesalahan jika saja hal itu disertai kejujuran ilmiah, bukannya pemelintiran sains dan mendahulukan tafsir sepihak atas agama. Namun, terlepas dari berbagai kesalahannya, kita juga harus menghargai upaya Harun Yahya dalam memasyarakatkan sains di kalangan umat. Sesungguhnya upaya ini adalah langkah yang baik, jika saja masyarakat diajak untuk membaca tulisan sains yang sebenarnya, jurnal-jurnal peer-review dan buku-buku teks akademik. Usaha Harun Yahya untuk mengangkat kebenaran dan keindahan Islam menggaung ke seluruh dunia sangatlah mulia.

Namun, sekali lagi sayangnya kebenaran Islam itu adalah kebenaran dalam interpretasinya sendiri. Dan anehnya lagi, banyak kalangan yang menggunakan argumen “kolonisasi sains’ ini disebarluaskan dan dijadikan bahan wajib bagi sekolah-sekolah umum. Tentu saja ini mempublikan yang semestinya bersifat privat. Padahal Nabi sendiri mengatakan “Sesungguhnya kamu lebih tahu urusan dunia kamu dari pada aku (nabi)” dengan kata lain urusan agama adalah urusan agama, dan biarkan pengetahuan mencari takdirnya sendiri, menjadi urusan manusia.

Advertisements

3 responses to “Harun Yahya, Sains dan Tindakan “Pulitis” Agama

  1. Terima kasih mas.. Melalui artikel ini, saya jadi tahu bahwa ada hadits ini:
    Kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian.” [Hadist ini diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahih-nya, dalam kitab Al Fadlail, dari riwayat Thalhah, Rafi’ bin Khudaij, A’isyah, dan Anas r.a. (hadist-hadist no. 2361-2363)

    Namun menurut pendapat saya, penempatannya belum tepat mas..
    Mungkin tidak etis saya meng-copy paste tulisan yg panjang lebar di kolom yang terbatas ini.
    Saya mendapat referensi dari sini:
    http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/gapai/VisiHukum.html

  2. Mohon maaf, saya tidak akan komen tentang Harun Yahya.

    Saya tdk anti teori Darwin, sekaligus sy memiliki iman agama. Bagi saya, teori Darwin adalah sebuah gagasan yang mencoba menguraikan tentang proses perkembangan makhluk hidup dari jaman purba hingga saat ini, dan menurut saya itu tidak menyelisihi ajaran agama. Ketika Allah berkata Kun Fayakun, itu di dalam “dimensi”-Nya, sedang sy percaya dalam dimensi kita kata itu menyangkut “proses”.

    Ada istilah missing link dalam teori evolusi. Menurut saya, “missing link” dalam teori evolusi adalah penciptaan Nabi Adam itu sendiri, tp yah para ilmuwan tentu akan selalu menuntut pembuktian ilmiah, mereka tidak mudah “percaya”, melainkan akan selalu mencari evidence dan berpijak pada penemuan ilimiah, mungkin itulah kenapa mereka memiliki derajat tersendiri di sisi Allah.

    Saya sama sekali tidak bermasalah dengan penemuan ilmiah tentang kemiripan genetik antara kita manusia dengan primata lainnya, atau dengan hewan lain, dengan tumbuhan, bahkan dengan benda mati sekalipun. Kenapa tidak? Toh menurut iman saya, seluruh alam semesta dan segala isinya (termasuk kita) berasal dari Dzat yang sama, sang Maha Kuasa, Maha Besar, Maha Mulia, maha Penyayang, Allah swt. Tentu amat dapat diterima logika saya, bahwa Allah memiliki blue print untuk segala jenis ciptaan-Nya, sehingga meski penciptaan Nabi Adam adalah unik, yakni berasal dari tanah/lumpur yang diberi bentuk, dan ditafsirkan adalah dari tempat bernama Jannah yg mungkin berada di luar bumi, namun dengan blue print yg sama, maka akan selalu ditemukan kemiripan genetika tadi. So yes i believe, nenek moyang saya adalah Nabi Adam as, yet i don’t mind kalo Darwin atau teori biologi molekuler merekam jejak manusia hingga ke primata purba, bahkan hingga ke organisme bersel tunggal pertama di bumi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s