Difabel dan Keluarga

Setiap kota yang aku kunjungi adalah pelajaran. Itu persis seperti setiap orang yang aku kenal , mereka adalah pelajaran. Tak ada orang yang menyenangkan tanpa cela dan sempurna. Selalu ada hal-hal yang tak sesuai dengan ideal kita, lalu hidup memang harus kompromi. Sebab kehidupan menawarkan dua pilihan: apa yang kita inginkan “sesuai” dan “tidak sesuai”. Keduanya seperti uang logam yang diputar, suatu saat akan datang yang tidak kita inginkan. Dan tentu tak fair, sekali lagi tidak fair jika saatnya tiba yang tidak kita inginkan datang mengenyampingkannya.
Wes, langsung saja ya. Pagi-pagi di mana bau embun dan sisa-sisa hujan semalam masih tersisa. Berangkat ke Surabaya. Berkali-kali aku menengok ke arah barat, arah mobil yg akan menjemputku dan setiap kali melihat barat, saat itu pula aku menelan ludah karena tak kutemukan juga mobil itu. Lalu aku ambil permen pedas kesukaanku, aku siapkan pointer yang akan aku bicarakan saat di Surabaya nanti.

Saya percaya bahwa kerja2 untuk difabel terkadang lebih dari PhD , meski kadang saya sedih, kala mengingat acceptence later PhD-ku yang expired bulan ini, semestinya tahun ini aku sudah berangkat hiks hiks. Tapi sudahlah. Sekolah tak harus formal. Sekolah terkadang harus berlumuran keringat, menjumputi mimpi melakukan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain. Mungkin, jelasnya aku ga tau. Ini hanya opini belaka. Siapa yang ga setuju tentu boleh.
Itu adalah kali pertama, aku bertemu dengan orang tua difabel sebanyak itu. Selama ini aku melupakan hal dari dunia difabel yaitu orang tua difabel. Setelah aku bercerita soal program-programku, beberapa orang tua difabel menghampiriku. Dia antara mereka ada yang bercerita soal kekhawatiranya, anaknya nanti kerja apa? Soal beasiswa, soal sekolah dll. Dua diantara mereka menghampiriku memegang tanganku dan memanggil aku “pak”, mungkin karena aku dosen.
“Pak Slamet, aku mau cerita”, lalu ibu itu pun bercerita perihal anaknya dan perjuanganya. Bu Rustinah sebut saja begitu, baru setelah satu tahun umur anaknya dia menyadari kalau ada yang aneh dengan telinga anaknya. Tak ada ekpresi kaget, tak ada ekspresi gembira mana kala diberikan “cilup ba”. Lalu ibu itu pun pergi ke sana kemari, setiap ada seminar perihal tuna rungu, dia akan ada di sana. Dia pernah ke jakarta, bandung, Solo, Yogyakarta dan kota-kota lainnya. Dia juga mengunjungi dokter, tempat orang pinter, hingga tempat2 rehabilitasi bagi tuna rungu. Apapun dilakukan.

Ibu itu melanjutkan cerita lagi, entah berapa biaya yang telah dikeluarkan demi anaknya. Setiap pagi orang tua itu mengantar anak itu ke sekolah di TK. Jauh2 hari dua tahun sebelum anak itu masuk SD, ibu Rustinah sudah sibuk mencari sekolah yang mau menerima anaknya. Puluhan sekolah telah didatangin, dan selama dua tahun itu hanya menemukan satu sekolah. Selama dua tahun pula Bu Rustinah dibayang-bayangi dengan kebingungan dan ketakutan karena tak ada sekolah yang mau menerima anaknya.

Setelah masuk SD, setiap hari bu Rustinah mengajari anaknya berbicara dan huruf-huruf. Dan itu dilakukan hingga enam tahun. Mengajari bicara, meyakinkan anaknya dengan semangat dan mendidik di rumah sendiri. Aku melihat ibu itu bercerita mengalir, diam2 matanya berkaca-kaca, sesekali mengusap wajahnya dengan tangan dan mengusap matanya dengan tisu. Aku pun sedikit bercerita, bahwa apa yang dilakukan oleh Bu Rustinah persis dulu seperti yang dilakukan oleh Emakku. Lalu Bu Rustinah memelukku, sambil menangis. “aku ingin anaku bisa kayak Pak Slamet, bisa berguna, dan tidak minder lagi”. Dalam hati “weh, aku kok jadi kayak gituu…” GE ER deh jadinya :p

Singkat cerita, ibu itu harus meninggalkan kuliah masternya, kerjanya dan cita2nya yang lain, semua diperuntukkan untuk anaknya. “aku dulu waktu kecil bercita2 seperti Pak Slamet, dapat beasiswa ke Luar negeri, dan sudah berhasil, tapi harus aku undurkan. Demi anakku, mudah2an anakku nanti bisa mengejar cita-citanya”.
Bu Rustinah mengingatkanku pada Emak. Persis seperti Bu Rustinah. Dulu aku sering digendong emak. Aku harus membalas semua ini, dan begitu pula membalas Bu Rustinah. Merasa bahagia ada yg menceritakan keluh kesahnya padaku. Aku ingin memanggul dan menggendong beban temen2 difabel lainnya, persis seperti Bu Rustinah ataupun Emak. Sebagai balasan atas jasa para ibu memanggul anaknya.

Apapun itu aku baru sadar. Menjadi difabel bukan saja masalah pribadi difabel itu sendiri, tetapi orang tua difabel jauh lebih berat, terutama ibu. Orang Tua Difabel mesti dilibatkan, dalam merumuskan banyak hal dalam dunia difabel, karena merekalah yang paling tahu dunia difabel selain difabel itu sendiri. Bener ga seh? Betul, kataku. Karena keluarga begitu dominan sekali dalam menentukan masa depan difabel, sebelum sekolah, sebelum kebijakan pemerintah, sebelum masalah aksesibilitas, hukum, proteksi sosial dan seterusnya. Keluarga paling menentukan dalam hal ini. Sosiolog Inggeris anthony Giddens memberikan sentilan menarik perihal keluarga. ketika globalisasi menggilas manusia dengan mencerabutnya dari akar2 kebudayaan, suasana hiruk pikuk masyarakat urban, maka keluarga mampu menetralisir itu. Pulang kantor, bertemu dengan keluarga seperti lupa semuanya, dan pada saat itulah “komunalitas paling primitif” mempunyai andil besar, dan manusia paling modern sekalipun membutuhkan produk primitif ini: keluarga

back to grading, maklum dosen :p

Advertisements

One response to “Difabel dan Keluarga

  1. pak amex boleh saya minta kontaknya fb atau ym..? adik saya difabel. jika bapak berkenan, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan tentang dunia perkuliahan bagi difabel dan keluarga. ym saya akroma_boy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s