Hubungan Akbar dan Dominasi yang begitu Akbar: Membaca Film Bermula dari “A”

Slamet Thohari
Kekuasaan itu menyelinap dalam alam bawah sadar, lalu tereproduksi hingga menjadi “kebenaran”. Seringkali, kebenaran itu culas dan tak jarang jelas dengan tandas bergerak menindas. Demikian dengan kebenaran normal dan tidak normal dalam tubuh dan indera manusia. Tuna netra, tuna daksa, tuna rungu, dan kaum difabel lainya dianggap tidak normal, hingga label “cacat” mesti dibebankan kepada mereka.

Agama, kebudayaan dan kesepakatan-kesepakatan sosial lainya mereproduksi bahwa tubuh yg normal adalah mereka yangg utuh berkaki dua atau berjalan tak bertongkat dst. Yang lantas, berbagai unsur-unsur kebudayaan, ritual agama, bangunan, tata kota, dan segala pernik-pernik produk manusia pun sangat bias akan definisi “normal” yang telah menjadi kebenaran. Kuasa itu hadir dari Bus Surabaya- Trenggalek hingga Truk yg lewat di Tol Cikampek. Dari sekolahan kecil di desa Karangmalang hingga Mall besar sekelas Matos di Malang. Kampus-kampus yang tak mempunyai ramp untuk kursi roda, masjid, gereja, station kereta, hingga apa saja, bahkan dalam laci pikiran Anda. Mungkin.

Kategori dan kontruksi dan kuas ini tampak remeh (trivial), namun tengoklah sejarah, bayi-bayi difabel di zaman Yunani dikumpulkan di kaki gunung Tegatos untuk dibunuh karena tak sesuai dengan cita-cita masyarakat saat itu yang menginnginkan manusia-manusia perkasa demi kemenangan dalam perang dan kejuaraan dalam pertandingan-pertandingan Olympia di kaki gunung Olympic. Hephaestus pun adalah tokoh keburukan yg disimbolkan dengan “kecacatanya”. Dalam Oedipus Rex , yang ditulis penyair Sophocles, Oedipus mesti menjadi difabel untuk menanggung dosanya dengan memilih menjadi buta setelah melakukan dosa yang amat besar: menikahi ibunya. Dus, normalisme tengah menjadi semangat zaman (zeitgeist), lalu direproduksi hingga pembunuhan kelompok yang dianggap tak normal pun dibenarkan.

Apa yang terjadi dalam masyarakat Yunani hanyalah sejumput bukti dari masa lalu, kuasa normalisme, meminjam narsisme Zainudin MZ, “tak ada di mana-mana (tak terlihat dan sublime) namun ada di mana-mana”. Hadir dalam berbagai masyarakat, baik kelompok maupun individu, membentang dari Ciputat hingga Chicago, dalam pikiran penyair atheis yg suka nongkrong di kafe dekat Pear Harbor hingga Tugiman si tukang penggali kubur. Hitler membunuh difabel karena baginya mereka adalah pemakan yang tak berguna (the useless eater), di Jepang, difabel korban nuklir Hibakhusa sulit mencari jodoh, dan diasingkan keluarganya, di Buleleng Bali, orang-orang Kolok, komunitas tuna rungu dikucilkan karena anggapan mereka tengah menimpa kutukan. Lebih dari itu, kebijakan Eugenik di Eropa, Amerika, hingga ahir abad 20 pun masih diberlakukan, di Cilacap difabel grahita pun dipancung, karena anggapan kerasukan.

***

“Bermula Dari A” adalah sebuah film pendek yang telah menghadirkan gambaran dan letupan-letupan ‘pembongkaran’ untuk apa yang oleh Foucault disebut sebagai tubuh-tubuh yang tertundukan (subjugated body) oleh “kuasa normalisme”. Film ini bercerita soal hubungan manusia yang secara kebetulan tuna netra dan dan tuna rungu. Bisa Anda bayangkan seorang tuna rungu, umumnya juga tuna wicara, berkomunikasi dengan tuna netra. Jika tuna netra berbicara, tuna rungu tidak mendengar, jika tuna rungu berbahasa isyarat sang tuna netra tidak melihat, lalu bagaimana mereka berkomunkasi? OMG, rumit sekali bukan? Film ini menghadirkan gambaran hubungan komunikasi yang oleh “orang normal” tak terbayangkan dan terpikirkan sebelumnya.

Dalam film ini syimbol-syimbol sangat kuat, adegan-adenganya penuh dengan ungkapan kritik simbolis yang lembut, namun jelas. Alur ceritanya dimulai dengan Akbar, Sang tuna rungu, yang berhubungan dengan gadis tuna netra. Bermula dari hubungan sederhana, sang tuna netra sepertinya menginginkan Akbar menjadi imam dalam solat maupun dalam hidupnya, sebab seorang perempuan menjadi imam, adalah larangan dalam Islam. Sedangkan di sisi lain, untuk menjadi Imam, Akbar setidaknya mesti bisa melafalkan Allahu Akbar dengan fasih sebagaimana “orang-orang normal”, padahal Akbar adalah seorang tuna rungu yang tak pernah mengenal suara, dan tentu sulit untuk melafalkan kata keagungan Tuhan tersebut.

Film ini, menurut pribadi saya, layak disandingkan dengan film Merzieh Meskini (2000), The day I become a woman, film Iran yg menggambarkan bagaiman dominasi maskulinitas yg dibungkus dalam agama dan kebudayaan dalam masyarakat Iran. Sebagaimana Film Merzieh, film BW Purba Negara, mempunyai alur cerita yang mudah untuk dimengerti, penuh dengan adegan-adegan yg mempunyai pesan kuat. Film ini memberikan gugahan perihal hal-hal yang nampaknya aneh oleh manusia awam namun lumrah bagi mereka. Meski mudah untuk dimengerti, film ini dengan tajam menebarkan misi dekontruktif dan pesan sosiologis perihal dominasi dalam masyarakat bagi difabel. Tidak sebagaimana dengan film-film yg mempunyai misi advokasi yang sering mengumbar “khotbah” perihal kemanusiaan dan keadilan namun mengabaikan nilai estetis dan riset, film ini sangat berhati-hati untuk tidak menanggalkan film sebagai sebuah karya seni. Adegan-adegan yang mengagetkan, dialog yang lumrah dan tak penuh agitasi, sinematografi yang menyihir, dan suasana sunyi dalam film menjadikan penonton terhipnotis terbawa dalam dunia kehidupan difabel.

***

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita pungut dari film yang dibuat lulusan Filsafat UGM 2001 ini. Pertama menampilkan satu bentuk komunikasi yg dianggap tidak wajar oleh orang banyak, namun komunikasi tersebut berjalan dengan baik, biasa dan tak ada masalah besar sebagaimana komunikasi-komunikasi yg dilakukan oleh spesies jenis manusia yang lainnya. Purbanegara menggelitik dan menjungkirbalikan nalar penonton perihal apa bagaimana hubungan yang disebut normal. Bahwa, apa yang ada dalam masyarakat adalah perihal kebiasaan, keanehan hanya terjadi ketika sulit dijumpai atau ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, akan tetapi, jika keanehan-keanehan tersebut tidak dihadirkan maka semua akan tampak seragam dan sama. Toh, apa yang dianggap aneh dan “menyimpang” dari yang umum dalam masyarakat terbukti berjalan dengan biasa dan tak ada hal yang menjadi masalah besar di sana. Jika antara tuna netra dan tuna rungu mampu berjalan dan berkomunikasi dengan baik lantas apa yang perlu dipersoalkan dengan mereka? Bukankah itu hanya bagian dari keragamana manusia untuk bersiasat dalam berinteraksi? Lantas kenapa mesti ada kategori “normal”dan “tidak normal”, demikian Film berdurasi 20 menit ini menggambarkan.

Dalam realitas sosial, komunikasi difabel seringkali menjadi alasan untuk menolak, membatasi dan melakukan tindakan/kebijakan diskriminatif lainnya. Banyak kampus, misalnya, tidak menerima tuna netra atau tuna rungu sebagai mahasiswa karena alasan komunikasi dan fasilitas yang tidak mereka punyai. Tentu pandangan ini adalah pandangan sepihak dari “kaum normalist” yang menilai bahwa difabel tidak punya siasat, strategi improvisasi, untuk beradaptasi dengan hal baru yang mereka hadapi. Tuna rungu kerapkali duduk di depan untuk membaca bibir dosen karena kampus yang tak menyediakan penerjemah bahasa isyarat, tuna daksa seringkali bersiasat datang lebih awal untuk naik tangga, agar tidak telat untuk kampus yang tak punya elevators. Alasan ini pula tak jarang orang-orang menempatkan kaum difabel di Sekolah Luar Biasa (SLB), bukan sekolah umum. “bagaimana mereka akan berkomunikasi dengan teman-temanya, sedang tuna rungu tidak mendengar?”. Film ini menghadirkan sepungut kisah bahwa komunikasi yang ada dalam bayangan “orang awas” dan “mendengar” adalah rumit bisa terjadi, dan itu mengalir biasa, bagian dari keragaman yang mesti dirayakan. Meminjam Bourdieu, improvisasi setiap individu selalu mempunyai “regulated improvisation system” dalam keseharian kehidupan seseorang/agensi (Bourdieu, 1977: 78), yang kemudian diinternalisasi dan diexternalisasi hingga menjadi bagian dari kedirian, atau habitus sang individu dalam menyikapi field. Jika kumunkasi Akbar dan Perempuan Tuna netra saja bisa berjalan dengan baik tentu alasan komunkasi untuk memisahkan difabel atau menolak mereka adalah alasan yang lemah. Demikian film ini menggugat.

Kedua, dekontruksi maskulinitas juga merupakan bagian kecil yang muncul dari film tersebut. Film dipantik dengan perempuan tuna netra yang menjadi imam untuk lelaki tuna rungu, sehingga orang akan mengira bahwa film ini adalah film bernada feminis. Kerumitan agama dan sistem sosial pun dihadirkan oleh Popo, panggilan akrab sang sutradara muda, dalam iklim dominasi maskulinitas kaum difabel bukan hanya didominasi oleh manliness akan tetapi juga normalisme. Lantas bagaimana dengan perempuan difabel dalam perbincangan kajian sosial, bagaimana pula agama menyikapi situasi jika sang lelaki adalah seorang tuna rungu yang tak bisa mendengar dan berbicara? Haruskah dia masih mewajibkan seorang imam adalah lelaki? Film ini seperti hendak menghadirkan bagaimana njlimet-nya kebudayaan, maskulintas yang mengukung budaya dan agama. Selain itu film ini juga menyuguhkan satu topik yang perlu diperhatikan bagi gerakan perempuan yaitu perihal difabelitas dan maskulinitas.

Ketiga secara tidak terduga Popo dengan sangat ciamik hendak menabuh genderang yang membisingi “orang-orang normal” perihal dominasi normalisme. Pyaaaaaaaaar, kaca jam tembok yang dipecah oleh perempuan tuna netra. Pecahan kaca tersebut sepertinya adalah inti dari film ini, sebagai stunning message, sekaligus nada gregeten sang difabel atas akutnya kuasa normalisme. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali hal-hal yang kita duga itu wajar akan tetapi sangat bias akan normalisme, sepeda, duit yang tak berbraille, trotoar yang tak bergauide block dan seterusnya. Demikian pula dengan jam yang dibungkus kaca, tuna netra bisa mengetahui waktu. Lalu kaca atau dominasi normalisme mesti dipecah dan dibongkar, agar jarum jam dapat dipegang, dan saktu bisa dibaca dengan jari-jari sang difabel. Pesan kuat, tidak berniat memberi khotbah, namun sangat tajam setajam pecahan kaca.

Ke-empat, agama dan normalisme menjadi topik utama. Agama lahir dari sebuah sistem masyarakat, jika masyarakatnya digenangi dengan kuasa normalisme, maka demikian pula dengan agama, tampil menyelimuti difabel. Tuhan yang maha tahu dan maha mengerti dan mendengar dibajak oleh orang normal hingga seseorang kudu bisa melafalkan dengan fasih huruf ro’ atau Rrrrr. Jika Sang penguasa Antares mengerti semuanya, kenapa kata Rrrrr menjadi begitu penting? Film ini menyuguhkan bagaimana kuasa normalisme dalam agama yang memberikan efek marjinalisasi bagi kaum difabel.

Ini dapat dibenarkan mengingat Islam, sebagaimana agama lain, adalah agama yang terikat dengan masa lalu. Karena itu, seringkali masa lalu menyelinap hadir membentuk nilai-nilai Islam. Masyarakat Arab tempat hadirnya Islam mempunyai idealisasi dan utopianisme tertentu. Idealisasi tentang cantik, tampan, kesopanan, dan seterusnya. Jelaslah, Islam hadir di negeri Arab, dan ikut terikat pula oleh apa yang disebut al-Jabiri sebagai “imaji-imaji sosial” (al-mikhyâlul ijtimâ‘i) masyarakat Arab. Kuasa Normalisme hadir pula dalam bagaimana dalam membaca dan melafalkan Qur’an. Dalam pemahaman Islam yang populer, membaca Alqur’an dengan suara indah merupakan kebanggaan. Bahkan terdapat ilmu tajwid, agar membaca Alqur’an sesuai dengan spelling dan bunyi orang Arab bicara. Bahkan, bunyi itu kemudian diseragamkan menjadi style bacaan orang Quraisy. Lantas, bagaimana dengan tuna rungu yang jika otomatis tak bisa mendengar, juga kesulitan untuk bicara? Dalam konteks masyarakat Indonesia yang amat jelas, kita dapat melihat bagaimana kuasa normalisme menyelimuti agama tampak pada doktrin-doktrin Islam yang terkait dengan negara. Kitab al-Mawardi, al-ahkamu as-syultiniyah wa Auliyatut Diniyah, merupakan contoh yang menekankan bahwa pemimpin yang baik dalam Islam adalah laki-laki yang tidak mengidap ketunaan atau kecacatan (al-hawas). Oleh banyak kalangan fundamentalis yang merasa eksespsionalis, alasan ini pernah menjadikan alasan kenapa Gus Dur tidak layak menjadi presiden atau calon presiden.

Kelima, sisi manusiawi difabel juga menjadi sorotan film ini. Dalam keseharian, seringkali difabel dipreprodusir bahwa difabel adalah orang lemah atau sebaliknya, difabel adalah orang yang luar biasa dan hebat. Berbagai tayangan di televisi dan cerita-cerita soal kehebatan difabel telah menjadi semacam konsumsi popular dalam masyarakat, seperti: difabel bisa mendaki gunung, difabel sukses menjadi pengusaha dan seterusnya, seolah-olah memberikan gambaran bahwa difabel adalah mahluk istimewa yang kuat dan perkasa bahkan lebih hebat dari orang yang bukan difabel. Nah dalam film ini, Popo menghadirkan kehidupan sehari-hari difabel, kehidupan seksualitas, cinta, membuat minuman, dan hubungan dengan orang lain. Film ini seperti hendak menyerukan bahwa difabel adalah mahluk biasa dan memang mahluk biasa yang menjalani kehidupan sebagaimana manusia yang lain.

***

Ah, walauagaimanapun Popo bukanlah difabel, hanyalah orang yg menyelami kehidupan difabel dan merekamnya dalam gambar hidup. Sehingga dia tidak mengerti bahwa tuna netra sangat peka, dia tidak akan mungkin memakai kaca mata sebelah sebagaimana dilukiskan dalam filmnya. Sang tuna rungu juga tak akan membiarkan perempuan itu memegang alat kelaminnya, sebab difabel terutama difabel yang taat beragama yang diutarakan dalam film tersebut, sebagaimana orang lain, akan risih ketika ada lawan jenis hendak pegang-pegang bagian tertentu. Yang lainnya, sepertinya Popo tak cukup kuat mendalami bahasa isyarat, sehingga gerak bahasa isyarat yang ditampilkan tak benar-benar mewakili bahasa isyarat yang digunakan oleh tuna rungu, mungkin mereka akan paham, namun dalam hatinya, saya yakin seorang tuna rungu akan bilang, “ah itu bukan bahasaku”. Mungkin. Lebih tepatnya itu bahasa normal yang didesain menjadi bahasa isyarat.

Selebihnya, film ini hebat, dan luar biasa. Pantas jika mendapatkan banyak penghargaan. Entahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s