Sekuntum Ode Untuk Bertanya

An ode to ask

Ask the harboring wind perpetually patting your shoulders,
What’s the meaning of perfection?
But they often call us The Deformed!

Ask the rain that comes once in a while,
Ask the blue ocean where the rain drizzles,
Ask the cool wind that lulls them to sleep,
Ask Saturn or Venus rulers whose luminous rays are expected to shine,

When drowned in serenity or overcome by worries,
Is this world created equal?
But they stare at us every day with strange eyes-
As if we are ‘unusual’ things,
And they often call us The Deformed!

They have taken away a city to be shared,
They closed the stairs,
They don’t provide our letters,
They have hijacked our streets,
They limit our schools,
For their own use-
For their own dreams, to conquer earth.
About us they never care,
And they call us- they are The Deformed!

They call us the Blind
But with the world that’s getting hotter,
Rampant poverty,
Differences that seemed like a given,
They close their eyes or what is it,
Ask the common grass or the azaleas- who is blind?

They call us the Deaf,
When the children cry because of a hard life,
Whenever mothers in remote villages
Or wherever inundated with worries,
Because of a fragile life by an arrogant world,
Ask afternoon or the morning rays, who is deaf?

They call us The Crippled,
But they sit motionless in their chairs,
When forests are depleted,
The earth diminishes by those unable to live with ‘thin’ pockets,
Ask the wet soil or whoever is in front of the house,
So who is crippled?

They call us The Mute,
But they don’t do anything,
When the rich destroy the poor’s houses, cemeteries or schools,
To see a bleak future when the rich send hot mud,
Ask letters in smart books-
Chairs in seminar rooms-
Or fresh café corners
Who is Mute?
Ask Saturn or Venus rulers,
When drowned in serenity or inundated with worries,

But they stare at us with strange eyes,
As if we are unusual commodities,
And to continue to call us, “the deformed.”
(translated by Livia)

Kayam Library, December 2 , 2007, 12.34 AM

Sekuntum Ode untuk bertanya
Tanyakan pada angin berlabuh yang menepuk pundakmu setiap saat
Apakah makna sempurna itu?

Tapi, mereka kerap kali memanggil kami: “orang cacat!”

Tanyakan pada hujan yang sesekali datang
Tanyakan pada laut biru tempat mereka berkecipik
Tanyakan pada angin sejuk
yang kerapkali membuat mereka mengantuk

Tanyakan pada Penguasa Saturnus atau Venus
Yang selalu mereka harap rinainya
Saat sedang tenggelam dalam teduh atau sedang dilanda keluh
Apakah dunia ini diciptakan sama bentuknya..

Tapi, mereka setiap hari menatap kami, dengan mata yang aneh
Seolah-olah barang yang nyeleneh.
Dan sekali lagi, mereka memanggil kami: “orang cacat!”

Kota bersama telah mereka rebut
Tangga-tangga mereka tutup
Hurup-hurup kami tak pernah mereka sediakan,
Jalan-jalan kami, mereka bajak
Sekolah-sekolah mereka batasi, untuk diri mereka sendiri.
Demi mengejar mimpi, menguasai bumi
Tentang kami, tak pernah peduli
Lalu kemudian memanggil: “Hey..Orang Cacat!”
Mereka memanggil kami “Orang Buta”
Namun dengan dunia yang semakin panas
Kemiskinan yang menderas
Perbedaan yang memang sebuah titah
Mereka menutup mata atau entah..

Tanyakan pada rumput biasa atau Azalea
siapa yang buta?

Mereka memanggil kami “Orang Tuli”
Pada saat anak-anak menangis, karena hidup yang sulit dikais
Saat ibu-ibu di pelosok desa atau di mana saja bersua keluh
Karena hidup yang rapuh oleh tata dunia yang angkuh

Tanyakan pada rembang sore.. atau lazuardi pagi
Siapakah yang tuli?

Mereka memanggil kami “Si Pincang”
Namun mereka diam duduk di kursi
Saat hutan habis..bumi yang mengempis
oleh orang-orang yang tak mau berkantong tipis

Bertanyalah pada tanah basah… atau apa saja di depan rumah
Siapa yang pincang?

Mereka bilang kami “Si Bisu”
Tapi mereka diam
Melihat juragan menggodam rumah orang lemah,
kuburan atau sekolah
melihat masa depan yang hancur karena juragan mengirim lumpur

Bertanyalah pada huruf di buku-buku pintar
Kursi-kursi di ruang seminar
Atau pojok kafe yang segar
Siapa yang bisu?

Tanyakan pada Penguasa Saturnus atau Venus
Yang selalu mereka harap rinainya
Saat sedang tenggelam dalam teduh atau dilanda keluh
Apakah dunia ini diciptakan sama bentuknya..

Tapi mereka setiap hari menatap kami, dengan mata yang aneh
Seolah-olah barang yang nyeleneh.
Dan terus memanggil kami: “orang cacat!”

Perpustakaan Kayam. 2 Desember 2007, 12.34
Saat Sendiri, 2 Tahun tidak Menulis Puisi
Dibacakan Henrdo di Acara Ruwat Budaya. Karta Pustaka

Advertisements

4 responses to “Sekuntum Ode Untuk Bertanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s