Apa kata Edward Said kalau Baca Laskar Pelangi…..!

Oleh: Nurhadi Sirimorok

Saya sering membayangkan bagaimana seandainya mendiang Edward Said sempat membaca tiga novel Andrea Hirata. Di sofa perpustakaan pribadinya mungkin dia akan senyum kecil membolak-balik buku-buku itu. Takjub. Betapa pengaruh para Orientalisme menancap sangat dalam di batok kepala sang novelis. Eksploitasinya terhadap dunia Timur yang diciptakan oleh Orientalis Barat begitu maksimal, mencapai tingkat yang benar-benar mencengangkan. Taburan ikon-ikon dan idiom Barat seperti enceng gondok yang memenuhi permukaan sungai di muara.

Sulur narasi Andrea yang berujung di Paris bisa jadi mengingatkan Said pada sepak terjang serdadu dan ilmuan yang diboyong Napoleon di tahun 1798 ketika mereka hendak menaklukkan Mesir. Setelah berhasil mereka membawa pulang banyak benda bersejarah dari negeri tua itu. Invasi sistematis pimpinan sang jenderal menghasilkan karya kolektif, dua puluh tiga jilid, Description de l’egypte, yang membantu orang Eropa menegaskan superioritasnya terhadap dunia yang mereka bayangkan sebagai Timur. Dia merinding mengingat bahwa buku ini pernah berhasil menggoda para Orientalis menjadikan Mesir sebagai “laboratorium dan teater dari pengetahuan Barat yang efektif mengenai dunia Timur.”

Sepulang dari ekspedisi itu, atau lebih tepatnya penjarahan besar-besaran, kenang Said, Napoleon mendirikan sebuah monumen di Paris. Monumen yang kini didatangi jutaan pelancong tiap tahun, mungkin seperti Ikal dan Arai, karena berada tepat di pertengahan jalan paling tersohor di sana, Champ Elysse. Nama monumen itu pun akan membuat sakit hati orang Mesir, Arc de Triomphe, gerbang kemenangan.

Napoleon bagi Mesir seperti van Heutsz bagi Aceh. Bedanya, kalau van Heutsz hanya bergantung pada Snouck Hurgronje untuk mengetahui isi dalam Aceh, maka Napoleon membawa serta “lusinan cendikiawan” untuk mempelajari Mesir. Dan jika van Heutsz memanfaatkan informasi Snouck hanya sebelum menyerang Aceh, maka Napoleon mengkonsumsi banyak sekali teks tentang Mesir sebelum menyerang, dan memerintahkan lusinan ilmuan membuat lebih banyak lagi catatan. Kelak, dari Mesir, dengan bantuan catatan para ilmuannya, Napoleon ingin memperlebar invasinya.

Pemujaan bak berhala Andrea terhadap kehidupan akademik di Paris mungkin membuat Said terkenang pada Bartholomey d’Herbelot yang menulis berjilid-jilid kumpulan risalah di kota itu, yang menghimpun seluruh studi tentang dunia Timur, Oriental. Buku itu diberi judul Bibliotheque Orientale, yang secara sederhana bisa diartikan, ‘Perpustakaan studi Ketimuran’. Buku yang menjadi rujukan hingga akhir abad 19, yang berisi banyak salah paham orang Barat tentang Islam pada masa itu.
Deskripsi Andrea yang begitu bersemangat tentang kota mode itu boleh jadi membuat Said ingat pada kalimatnya sendiri yang dia tulis di buku, yang dalam terjemahan Indonesianya bernama Orientalisme. “…dan selama lebih dari paruh pertama abad ke sembilan belas Paris adalah ibukota dunia Orientalis (bahkan menurut Walter Benjamin, sepanjang abad ke sembilan belas).”

Setelah menyelesaikan ke tiga buku itu—kalau dia tahan—mungkin Said akan menghela nafas panjang sambil geleng-geleng. Saat seperti itu, saya bayangkan dia ingin menulis ulang dalil-dalilnya dari Orientalisme. Bahwa Orientalisme adalah cara untuk memahami dunia Timur dari kacamata Barat. Bahwa Orientalisme adalah gaya berpikir yang menyihir orang untuk menerima mentah-mentah pemikiran bahwa terdapat perbedaan mendasar antara Barat dan Timur. Bahwa Timur itu ciptaan Barat karena orang Barat menulis tentang Timur dengan bebas tanpa adanya perlawanan. Bahwa setelah menarik garis, dan menonjol-nonjolkan perbedaan, orang Barat kemudian datang mempelajari, menaklukkan, dan mencitrakan Timur menurut kehendak mereka. Seperti kodok percobaan yang ditangkap kemudian dibelah untuk kepentingan penelitian skripsi. Bahwa dengan begitu, Barat merawat superioritasnya terhadap Timur.

Setelah itu mungkin Said tidak bisa tidur tenang. Pikirnya, “bagaimana kalau buku Andrea dibaca banyak orang Indonesia?”

Karnaval itu akhirnya tiba juga. Mahar menjadi pahlawan yang dipuja-puja Ikal dalam persiapan karnaval ini. Dialah sang koreografer, penata busana, sekaligus komposer dan pemain musik. Mahar bisa segalanya. Dalam novel Andrea para tokoh memang begitu. Perguruan Muhammadiyah yang doyong dan kemasukan kambing di tempat terpencil itu berisi orang-orang hebat yang tidak kita temukan di tempat manapun. Guru yang sempurna, muridnya pun rata-rata luar biasa. Tak heran bila mereka melakukan hal luar biasa dalam pesta karnaval, menampilkan sebuah tarian perang suku Masai dari Afrika.

Untuk pakaian mereka memanfaatkan bahan-bahan yang sangat banyak dan salah satu anggota Laskar Pelangi harus bekerja empat hari untuk menyelesaikannya. Koreografinya hanya datang dari pemikiran jenius Mahar tanpa kita tahu pernah dia lihat di mana. Soalnya di kampung Ikal tidak ada bioskop. Mungkin Mahar sempat mengintip foto tarian itu buku-buku di perpustakaan kepala sekolah berisi banyak sekali buku sains canggih. Tapi bagaimana Mahar tahu gerakannya kalau itu cuma foto? Ah, agak sulit membayangkan Mahar menemukannya di mana-mana di sekitar rumahnya. Yang paling memungkinkan adalah Andrea Hirata menemukan tarian itu di wikipedia dan menelusuri gambar dan dokumenternya.

Internet memang ajaib. Seluruh informasi yang kita butuhkan ada di sana. Pencitraan tentang orang Afrika yang populer tentu sangat banyak di sana. Memilih informasi untuk saya tuliskan di sini membutuhkan berjam-jam. Ada yang membeberkan dengan datar ada pula mengulasnya dengan analisis kritis. Fenomena keterjajahan Afrika memang luar biasa well-documented, sebab nyaris seluruh bangsa Eropa besar—tentu Perancis termasuk di dalamnya—memotong-motong kue tart Afrika untuk mereka bagi-bagi. Mereka tidak hanya membelah-belah tetapi juga mendokumentasikan, mempelajari, menamai, agar lebih mudah dan efektif untuk diperintah dan dijarah.

Keterangan standar dari wikipedia akan terlihat membosankan bila tak dilengkapi ulasan-ulasan dari beberapa website yang menayangkan analisis postcolonial terhadap penyajian Afrika kepada dunia oleh orang Eropa sejak abad ke-19. Menurut salah satu tulisan Jan Nederveen Pieterse, Colonialism and Representation—hasil membuka-buka halaman dari mesin pencari google, sejak abad ke 19, orang Afrika menjadi bahan pajangan yang laku di Eropa. Gambaran tentang perang adalah salah satu yang paling digemari orang Eropa. Ketika sepasukan Eropa datang ke sebuah pelosok Afrika untuk berperang, mereka membawa serta seniman yang diutus media untuk ‘meliput perang’. Mereka membuat lukisan akurat tentang pakaian angkatan perang Eropa dan lawannya. Namun bagi media yang kurang punya fulus seperti Illustrated London News, mereka hanya menggambar dari ‘tangan ke dua’, hasilnya adalah pencitraan karikatural tentang angkatan perang Afrika yang sangat digemari orang Inggris.

Penggambaran pasukan perang Afrika, yang tersebar menjadi pencitraan populer di Eropa adalah, sepasukan orang telanjang dada, menggunakan senjata manual sederhana seperti tombak, berperang tanpa aturan, dan kalah. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang liar dan karena itu gampang ditaklukkan. Padahal yang sebenarnya adalah mereka sudah menggunakan senjata api sejak setidaknya dua abad sebelumnya, dan tidak telanjang dada. Gambaran tarian perang gubahan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi sangat dekat dengan pencitraan populer ala kaum kolonial.

Paris, Mei 1889, sedang menyambut tamu-tamu malang yang didatangkan dari negeri-negeri jajahan. Exposition Universelle atau Pameran Sejagad, sedang berlangsung di kawasan seluas nyaris satu kilometer persegi. Menara Eiffel yang rampung tahun itu menjadi pintu gerbangnya. Pada perhelatan yang menyedot jutaan pengunjung itu, empat ratus orang berkulit gelap dipamerkan seperti hewan-hewan tangkapan di kebun binatang—pameran semacam ini di Eropa memang dirintis oleh pengelola kebun binatang.

Titik yang paling menyedot perhatian dalam pameran itu adalah village negro atau perkampungan orang berkulit hitam. Sebagian orang Eropa di masa itu menamainya Human Zoo atau kebun binatang berisi manusia—tentu pertunjukan tarian perang mereka yang liar juga ada di dalamnya. Di masa itu orang Eropa sangat percaya teori evolusi Darwin, bahwa manusia berasal dari kera. Nah, di antara kera dan bangsa Eropa, ada spesies setengah jadi, spesies beradab rendah, telanjang dan liar, cuma mengenakan kulit kayu atau jerami tanpa baju, dan berkulit gelap. Mahluk ‘belum jadi manusia’ ini sungguh menarik ditonton orang Eropa yang beradab. Bagi ilmuan mereka subyek penelitian. Bagi penguasa mereka benda taklukan. Bagi para agamawan mereka calon gembala.

Selain itu juga ada layanan merasakan menjadi penjajah. Mereka tidak perlu repot-repot ke Afrika untuk merasakan enaknya jadi penguasa. Selain memanjakan mata dengan pertunjukan eksotik, mereka juga merasakan digendong di atas hammock khas Afrika dengan bayaran murah. Orang-orang berkulit hitam yang malang itu harus merasakan malu di negeri penjajahnya.

Reaksi penonton dan juri karnaval dalam Laskar Pelangi mirip dengan orang-orang Eropa beradab di Paris akhir abad ke-19. Mereka berdecak kagum melihat pertunjukan aneh nan eksotis itu. Tentu dari mata warga kolonial Eropa, yang diwakili Andrea, dan ditularkannya kepada seluruh audiens dalam novel larisnya itu, marching band yang sudah sering mereka lihat tidak akan bisa menandingi tarian langka bangsa ‘biadab’ ini. Sungguh sebuah adopsi sempurna sebuah colonial mind dari seorang putera Melayu Belitong. Dan guru-guru Muhammadiyah turut bangga pada pertunjukan murid-muridnya.

Entah mengapa saya teringat lagu Bob Marley, Bufallo Soldier, ketika membaca adegan tarian perang itu. Mungkin karena melibatkan Ikal yang tampil sebagai sapi. Lagu itu bercerita tentang perjalanan panjang orang Afrika yang dirampas dari kampungnya, untuk dijual sebagai budak di benua Amerika.

Lapland masih belum dikenal orang ketika Carl Linnaeus tiba di sana. Dialah yang akan membuat kawasan di ujung utara Swedia itu menjadi terkenal. Sang ahli botani dan ekologi berlayar dari Uppsala di tahun 1732 menuju tempat itu untuk sebuah ekspedisi penelitian yang dibiayai akademi Sains Uppsala. Sesampai di sana dia mulai mengumpulkan dan membuat klasifikasi tumbuhan yang ada di sana. Setelah itu dia meneruskan ekspedisinya beberapa tempat lain untuk melakukan hal serupa. Di Belanda, tahun 1735, dia menerbitkan catatan tentang klasifikasi tumbuhan sepanjang sebelas halaman berjudul systema naturae. Akhirnya, setelah kembali ke Uppsala, terus meneliti sembari mengajar sebagai guru besar, pada tahun 1741, catatan kecil itu telah menjadi buku besar.

Buku ini sangat berpengaruh bagi para ahli botani Eropa yang saat itu sedang giat-giatnya menduduki belahan dunia lain. Sejak tahun 1878 sampai 1914, atau hingga berkecamuknya perang dunia pertama, mereka menguasai sekitar 84 persen permukaan bumi. Dengan membawa sistem buatan Linneaus para ilmuan Eropa, atas sokongan dana pemerintah kolonial, melakukan pengumpulan dan pembuatan klasifikasi tumbuhan dan hewan—manusia termasuk di dalamnya.
Taksonomi gaya Linnean ini, yang bertaburan dalam buku Laskar Pelangi, mengundang banyak komentar dari ilmuan-ilmuan generasi belakangan. Mary Pratt, dalam bukunya, Imperial Eyes, sains taksonomi Eropa utara, yakni praktek mengklasifikasi dan menamai organisme yang belum dikenali di Eropa, menciptakan sebuah kesadaran baru. Sejak itu orang menganggap bahwa planet ini berpusat di Eropa. Untuk menyebutkan sebuah orgnisme yang ada di bumi orang harus merujuk dari apa yang dibuat Eropa.

Andrea Hirata hanya salah seorang warga bumi yang harus menggunakan nama latin agar yakin dia tidak sedang berbuat kesalahan ketika menyebutkan nama tumbuhan yang ada di kampungnya. Inilah cara yang benar untuk melakukannya. Dia bayangkan pembacanya berpendidikan ala Eropa, sama seperti dia, sehingga juga bergantung pada taksonomi untuk mengenali tumbuhan. Cara penyebutan lain akan dianggap tak ilmiah, berisiko tidak dikenali oleh pembaca, dan harus dinomorduakan atau dihilangkan sama sekali.

Kemungkinan lain, Andrea adalah produk sekolah Orde Baru yang rajin menghilangkan nama lokal. Bisa jadi, satu-satunya jalan bagi dia untuk mempelajari nama asing adalah dari sekolah. Sementara nama lokalnya telah hilang dibawa ke kuburan oleh para pendahulunya. Saya yang tak berusia tak jauh dari sang novelis, juga turut menjadi korban dari fenomena semacam ini.

Bagi gaya berpikir kolonial bangsa Eropa, orang-orang berkulit gelap itu adalah hewan-hewan biadab piaraan yang telah dijinakkan. Mereka dan sebagian negeri serta isinya telah diberi nama menurut cara berpikir Eropa agar lebih mudah dipelajari. Sebelum menjadi jinak mereka tentu harus ditaklukkan dulu. Untuk menaklukkan mereka dibutuhkan keunggulan senjata dan siasat. Sebelum itu pemilik modal dan pemegang kuasa harus diyakinkan. Para ilmuan sangat dipercaya untuk hal ini.

Lanskap, tumbuhan, hewan, dan manusia: bangsa jajahan, harus dipelajari oleh para ilmuan. Nama-nama aslinya mesti diubah menjadi nama yang lebih saintifik, yang asing ditelinga orang setempat. Lalu nama-nama itu dibawa pulang ke universitas untuk diajarkan sebagai ‘ilmu’ sebelum diekspor kembali ke tanah jajahan lewat ‘pendidikan’ formal bentukan pemerintah penjajah. Ketika generasi muda Melayu mempelajarinya sebagai ‘ilmu’, sebagaimana Ikal, hilanglah nama Melayunya. Kasus pohon filicium yang muncul ratusan kali di Laskar Pelangi menjadi salah satu buktinya.

Demikian berkuasanya ‘ilmu’ Linneaus itu, sampai Andrea harus menempatkan nama asli dari nama-nama asing itu di daftar glosarium. Para pembaca Melayu disuguhi nama kolonial tumbuh-tumbuhan asli mereka, dan baru tahu (atau menerka-nerka) nama aslinya di bagian paling belakang novel.

Anehnya, masih di novel yang sama, kawan Ikal mau mengubah nama-nama tempat asing kembali ke nama aslinya. Di sini terlihat ambiguitas Andrea. Nama tempat biasanya datang dari Jawa, dibawa oleh pemerintah pusat, yang tidak terlalu kuat dan ruwet untuk dihadapi. Untuk mengubahnya tidak perlu membuat peta dunia baru yang telah bisa diterima orang sebumi. Lawan ini cukup enteng. Sedangkan untuk mengabaikan taksonomi yang sudah mendunia itu cerita lain. Sistem ini telah menguasai jagad ilmu pengentahuan yang belindung di balik benteng maha kukuh. Seluruh universitas besar dan berpengaruh di dunia akan menertawakan mereka bila anak-anak Melayu itu mencoba mengubahnya. Itu pun bila mereka sadar bahwa ini juga adalah sebentuk penjajahan.

Drs. Julian Ichsan Balia guru sastra SMP Bukan Main, dalam novel Sang Pemimpi, telah menyihir Ikal—juga Arai meski suaranya selalu diwakili Ikal. Dia guru sastra, bidang yang dianggap oleh ikal sebagai ‘muara segala keindahan’. Dia kreatif bak John Keating guru bahasa Inggris Welton Academy di film Dead Poet Society yang kadang mengajar di luar kelas, mengutip-ngutip karya sastra dunia berbahasa asing, dan kadang mengajukan pertanyaan filosofis kepada siswa-siswinya yang baru SMP. Di salah satu adegannya, sangat mirip dengan adegan di film keluaran tahun 1989 itu, Pak Balia bertanya, “what do we do in life…,” kata Pak Balia teatrikal, “…echoes in eternity…!!” (hl. 72)

Pengandaian ini rasanya tidak imbang karena dalam film itu, anak-anak sekolah Welton Academy adalah anak-anak dari keluarga makmur di negara makmur, AS, yang tengah bersiap masuk universitas dan terlatih mendengar kutipan-kutipan dari karya sastra. Anak-anak SMP Bukan Main dalam Sang Pemimpi adalah anak-anak miskin yang tidak membaca karya sastra.

Di suatu hari ketika Pak Balia mengajar di lapangan sekolah, dia mengucapkan sesuatu yang akan menjadi mimpi masa depan Ikal dan Arai. Dia bilang: “Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika yang eksotis. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban….” (hl. 73)

Kalimat ini diulang sebanyak lima kali dalam berbagai varian. Secara spesifik yang paling dikenang Ikal, tak pernah absen dalam perulangan-perulangannya, adalah ‘altar suci almamater Sorbonne’ dan ‘menjelajahi Eropa sampai ke Afrika’. Bila pada Laskar Pelangi yang jadi penyemangat adalah Lintang, atau kecerdasan dan perjuangan Lintang, maka dalam Sang Pemimpi penyemangatnya adalah dua susunan kata di atas. Kalau di buku pertama Lintang kadang menjadi gantungan nasib seluruh sekolah Muhammadiyah—selain Mahar. Maka di buku berikutnya, dua mantra di atas menjadi gantungan Ikal dan Arai. Awalnya, sekolah yang bergantung pada murid. Kini sang murid bergantung pada mimpi.
Selanjutnya, di Laskar Pelangi Ikal tak bermasalah melanjutkan sekolah karena keasikan dengan suasana sekolah. Di sana dia berjumpa dengan banyak tokoh manusia-tipe-ideal. Kehidupannya di kampung pun tidak begitu sulit. Tidak harus mencari uang sendiri dan masih tinggal bersama orangtua yang baik. Di Sang Pemimpi Ikal kehilangan sekolah yang dia cintai, sosok-sosok guru ideal yang dia kagumi, kawan-kawan Laskar Pelangi yang mengisi waktunya dengan beragam pengalaman eksotik. Latarnya berganti dengan kehidupan keras di luar sekolah. Meski di sekolahnya masih ada guru yang inspiratif, namun keadaan luar sekolah yang demikian keras membuatnya kadang patah semangat. Dia harus bekerja sejak pukul dua pagi sebelum pergi ke sekolah. Dia berganti-ganti pekerjaan dari tukang selam di lapangan golf, tukang bersih-bersih dan buat teh di kantor pemerintahan, sampai kuli pengangkut ikan dari perahu ke dermaga. Begitu pula ketika dia tiba di Jawa, dia harus bergantu-ganti pekerjaan untuk melanjutkan sekolah di UI Depok. Dalam kehidupan keras seperti ini, dia berkali-kali diselamatkan oleh mantra ajaran Pak Balian yang kini menjadi mimpinya.

Setelah diucapkan Pak Balian, lima kali mantra itu muncul. Pertamakali ketika Ikal mengulangi dalam hati mantra itu segera setelah diucapkan Pak Balian. Satu kali mantra ini digunakan untuk menyembuhkan Jimbron yang tengah sedih setelah dihardik Ikal karena terlalu bersemangat bercerita tentang kuda. Tiga kali ketika semangat Ikal tengah yang merosot.

Kerasnya kehidupan fisik sebagai pekerja kuli membuatnya menjadi pesimis menjalani cita-cita. Dia menghardik mimpi itu. “Altar suci almamater Sorbonne, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika, hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yang kelelahan agar tegar bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan.” Di sini Andrea memainkan narasi perjuangan sebagai jalan menuju mimpi, lalu dia benturkan dengan kenyataan hidup tokoh utamanya. Namun kenyataan harus dikalahkan oleh mimpi.

Rasa pesimis Ikal membuat prestasi sekolahnya menurun. Peringkat kelasnya terlempar jauh sekali. Dia semakin sedih melihat ayahnya datang dan pergi dengan tenang ketika menerima nilai sekolahnya yang terjun bebas. Di tengah kegalauan itulah, Arai mengeluarkan mantra penjinak rasa pesimis. Dia mulai dengan mengingatkan bahwa, “Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…” Orang susah harus punya mimpi, itulah dasar logikannya. Lalu dia mengajukan ancaman yang tak disukai para pemimpi kehidupan modernis seperti Ikal. “Mungkin setemat SMA kita hanya akan mendulang timaah atau menjadi kuli…” (hl. 153)

Setelah mengingatkan dalilnya, bahwa orang susah harus punya mimpi, dan mengajukan ancaman bila tidak terus bermimpi, barulah Arai mengucapkan mantranya. “Kita lakukan yang terbaik di sini!! Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika!! Kita akan sekolah ke Prancis!! Kita akan menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne! Apa pun yang terjadi!!” (hl. 154)

Maka sembuhlah Ikal.

Kali lain mantra ini muncul saat Ikal menghitung-hitung biaya kuliah yang dia kumpulkan sebagai kuli ngambat. Mendapati cita-citanya terlalu tinggi, karena uang yang dia tabung bakal terlalu kecil, keraguan merayapinya. Namun dia segera melawannya dengan kekuatan cita-cita. Dia mengubah makna kata ‘realistis’ dalam kamusnya, menjadi “berbuat yang terbaik pada titik di mana aku berdiri..” Berbuat untuk sebuah mimpi adalah realistis menurutnya. Tak apalah, untuk sebuah mimpi segala makna bisa diubah. Memang demikianlah salah satu cara menyemangati diri dalam deraan kekerasan hidup, melarikan diri ke dunia impian. Sebagaimana bangsa Indonesia, tertimpa banyak tekanan dan melarikan diri memelototi wajah halus muda dan kaya di sinetron dan lomba pemilihan idola.

“Aku semakin terpatri dengan cita-cita agung kami: ingin sekolah ke Prancis, menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika. Tak pernah sedikit pun terpikir untuk mengkompromikan cita-cita itu.”

Demikian Ikal meyakinkan dirinya di halaman 208.

Saat menunggu surat lulus dari pemberi beasiswa Uni Eropa, mantra ini muncul lagi. Dia merefleksikan bagaimana susahnya melanjutkan sekolah dan bagaimana mimpi itu menyemangatinya.

“Tiga tahun kami melakukan pekerjaan paling kasar di dermaga itu. Menahan kantuk, lelah dan dingin dengan meraupi seluruh tubuh kami dengan kehangatan mimpi-mimpi. Betapa kami adalah pemberani, para patriot nasib. Dengan kaki tenggelam di dalam lumpur sampai ke lutut kami tak surut menggantungkan cita-cita di bulan: ingin sekolah ke Prancis, ingin menginjakkan kaki-kaki miskin kami di atas altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajahi Eropa sampai ke Afrika.”

Perjuangan anak kampung cerdas yang keras. Inilah racikan yang menurut rumus paling manjur bagi narasi ‘perjuangan’—bahwa orang harus bekerja keras secara fisik—dan narasi ‘pendidikan’—bahwa setelah S1 di UI hanya ada S2 di universitas ‘terbaik di dunia’—untuk mencapai mimpi. Setinggi apa pun mimpi itu.

Agak aneh juga bila kita memutar ulang cerita ini dari awal sekali lagi. Rumus ajaib yang meluluskan mimpi Ikal dan Arai, tidak begitu mujarab bagi Lintang. Apakah mungkin karena Lintang tidak cukup kuat bermimpi? Di sinilah indahnya sastra, rumus tidak berlaku universal, apalagi untuk menciptakan kontras demi mengoyak emosi pembaca.

Maka, dengan selesainya nasib Lintang, rumus itu pun bebas bekerja dengan baik. ‘Altar suci almamater Sorbonne’ dan ‘menjelajahi Eropa sampai ke Afrika’ muncul dalam tahap-tahap kritis para tokohnya. Terutama Ikal. Membuat mereka sanggup bertahan, ‘berjuang’ dalam ‘hidup yang terpuruk’, menempuh ‘pendidikan’ demi mendapatkan ‘ilmu’. Dan mimpi pun tercapai.

“Subhanallah!”
Aku berlari meloncati anak tangga […] Aku terpaku melihat sosok hitam samara-samar di balut kabut, tinggi perkasa menjulang langit seperti hantu. Menara Eiffel laksana nyonya besar.” (hl. 78-79)

Lalu tibalah Ikal dan Arai di altar suci alamamater Sorbonne di Paris. Di sepanjang Edensor, novel ke tiga Andrea hirata, kita bisa membaca realisasi mimpi Ikal dan Arai. Novel ini lebih enak di baca. Kekacauan kronologis penuturan sudah lenyap. Sang penutur, Ikal dewasa, bisa diasumsikan sudah mengenal seluruh Ikon barat yang dia sebutkan. Latar utama Paris pun membantu melenyapkan banyak keanehan pembaratan Belitong di Laskar Pelangi. Cerita sekuel ini, mimpi Ikal, telah menemukan tempatnya.

Bersamaan dengan itu mencuatlah gejala lain. Tabiat yang sering muncul ketika anak Melayu bertandang ke negara maju. Inferioty complex. Sejak dari Schipol, insiden di Brugge, Belgia, hingga tiba di Paris, novel ini dipenuhi deskripsi kekaguman. Orang-orang, bangunan, lanskap, teknologi, semua membuat Ikal dan Arai berdecak kagum, atau diceritakan secara dramatis sedikian rupa supaya pembaca tertegun takjub.

“Kudekati Eiffel, kusentuhkan tanganku padanya. Ia masih tak peduli. Apalagi sekarang, ia makin cantik karena matahari merekah menghangatkan lengan-lengan perkasanya yang hitam berkilat-kilat. Kawan, mimpi-mimpi telah melontar kami sampai ke Perancis.” (hl.79) Begitulah salah satu dari sekian banyak tuturan kekaguman Ikal terhadap kota impiannya.

Bunyi nama seorang perempuan Perancis pun menjadi incaran Ikal. Liaison officer pemberi beasiswa itu, bernama Maurent Leblanch. Dibaca dengan bunyi sengau ala Prancis terdengar memukau bagi telinga Melayu Ikal. Dia begitu suka bunyi itu sehingga melakukan macam-macam trik agar sang wanita menyebutkan namanya dalam aksen Prancis. “Indah bukan main. Morong leBlang, sengau, beradab, terpelajar, dan sangat berkelas.” (hl. 84) Itulah pendapat Ikal.

Andrea mendedikasikan satu bab khusus untuk menceritakan—mungkin secara tidak sadar—rasa minder sang tokoh. Judul bab nya pun sudah bisa membuat kita sadar apa isi dibaliknya. The pathetic four. Empat mahluk menyedihkan. Kita tahu judul ini merupakan plesetan dari The Fantastic Four, sebuah komik yang menceritakan empat manusia berkekuatan super.
Sebelum menceritakan siapa the pathetic four, tentu dia butuh perbandingan. Maka berceritalah dia tentang kawan-kawan sekelasnya dari negara maju. Berderetlah tokoh-tokoh tersebut berdasarkan stereotip dangkal terhadap karakter masing-masing negara. Tentu diceritakan sedemikian rupa untuk menunjukkan superioritas akademik di bandingkan the pathetic four.

Sosok wanita Inggris kawan Ikal tampil dalam stereotip the Brit, primordial, lalu ada dilengkapi dengan stereotip wanita metropolitan, trendy, suka dipuji. Namanya Naomi Stansfield. Lalu Virginia Sue Townsend dari Amerika yang dia juluki Virginia stubborn berdasarkan cerita populer dari tempat itu. dia keras hati dan suka meniru artis Jennifer Aniston. Keduanya suka bertengkar. Namun prestasi akademik mereka, meski fluktuatif, sangat hebat. “Ide-ide cemerlang mereka sampai dapat mengubah silabus mata kuliah perilaku konsumen. Dosen sering menghargai mereka dengan nilai tres bien alias bagus sekali.” (hl.98)

Lalu ada tiga orang Jerman Marcus Holdsvessel, Christian Diedrich dan Katya Kristanaema. Mereka digambarkan sebagaimana orang kebanyakan mengenal atau membayangkan mengenal orang Jerman, tidak pernah ribut, kikuk dan tenang. “Motto mereka Tiga P: Preparation Perfect Performance” membawa prestasi akademik luar biasa. “…orang-orang Jerman ini menyatakan untuk sekalian mengubah silabus ilmu ekonomi.” (hl. 99). Saskia de Rooijs dan Marike Ritsema, dua gadis Belanda, lebih hebat lagi. Mereka selalu mendapat nilai parfait atau sempurna. Mereka bahkan bisa mengusulkan untuk “mengubah Universite de Paris, Sorbonne!”. (hl.100) \

Yang paling hebat tentu saja orang Yahudi, sebagaimana pengetahuan stereotip popular yang beredar di seluruh dunia. Abraham Levin, Y’hudit Oxxenberg, Yoram Ben Mazuz dan Becky Avshalom, itulah nama mereka. Kita tentu sudah bisa menebak apa yang ingin diubah orang-orang Yahudi ini. Ya. “mengubah Prancis.” (hl.101) Lalu ada orang-orang ramah pencinta seni dari Prancis dan orang-orang berpikiran terbuka dari Hong Kong.

Sungguh kebetulan Ikal bisa ketemu orang-orang tipe-ideal sehebat itu dikelasnya.

Setelah tuntas menjelaskan orang-orang hebat dari negara maju, barulah Andrea memberi kesempatan kepada empat mahluk menyedihkan. Saya akan mengutip dua alinea di akhir bab The Pathetic Four, dimana Andrea memperkenalkan empat tokoh menyedihkan dalam Edensor.

“Sisanya selalu terlambat, berantakan, dan tergopoh-gopoh adalah The Pathetic Four—empat mahluk menyedihkan—penghuni jejeran bangku paling depan. Jika dosen menjelaskan, mereka berulang kali bertanya soal remeh-temeh, sampai menjengkelkan. Anak-anak ini melengkapi diri dengan perekam agar petuah dosen dapat diputar lagi di rumah. Norak dan repot sekali. Beginilah akibat penguasaan bahasa asing ilmiah yang memalukan dan efek gizi buruk masa balita. Jika ide mahasiswa negara lain demikian besar sampai ingin mengubah Prancis, The Pathetic Four sangat sederhana, yaitu agar bagaimana dapat nilai passable atau cukup, lulus seadanya dengan nilai C-, tak perlu mengulang, sehingga dapat menghabiskan waktu sejadi-jadinya menonton bola.

Ide lainnya adalah membujuk pemberi beasiswa agar menaikkan uang saku. Kenaikan itu disimpan untuk belanja sandang murah pada obral end season, maka pakaian musim semi dipakai saat musim salju, pakaian musim salju dipakai saat musim panas. Biasanya keempat orang itu menangguk-angguk takzim saat menerima kuliah. Lagaknya seperti paham saja, padahal tak tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka itu Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj [India], Pablo Arian Gonzales [Mexico], Ninochka Stranovsky [Georgia], dan aku. Kami blingsatan, terbirit-birit mengejar ketinggalan.”

Sungguh kebetulan orang-orang menyedihkan ini berasal dari negara Miskin. “Gonzales berasal dari keluarga pandai besi di Guadalajara, kantong kemelaratan Amerika Utara.” Atau “Ninoch, gadis kecil kurus ini, berasal Georgia, Negara miskin yang baru memerdekakan diri dari cengkraman cakar beruang merah Rusia.” (hl. 106). Kontras dengan kawan-kawannya yang cerdas, yang semuanya (harus) dari negara maju. Tak ada penyeberangan. Hanya dinding tebal tegas yang bertuliskan ‘hanya orang dari negara kaya yang boleh cerdas’.

Bisa jadi Andrea beralasan, melakukan ini secara sadar, sebagai tindakan tawaddhu. Merendah biar tidak takabbur. Namun dengan demikian dia melanggengkan cara berpikir Orientalisme bahwa, satu, ada garis perbedaan yang terang benderang antara Barat yang diwakili Eropa dan mereka yang berhasil mengadopsinya dengan baik, seperti Hongkong. Dua, bahwa bangsa non Barat memang sudah lebih rendah dari sono-nya. Tiga, untuk bisa lebih sejajar, namun tidak boleh benar benar sejajar, mereka harus meniru Barat. “Being white but not quite.”

Dengan mengambil ‘ilmu’ dari ‘pendidikan’ menurut versi Ikal sebagai standarnya, maka sempurnalah superioritas absolut modernitas. Modernitas Barat tersederhanakan ala Andrea Hirata. (p!)

:: Nurhady Sirimorok (http://www.panyingkul.com/view.php?id=961)

Advertisements

One response to “Apa kata Edward Said kalau Baca Laskar Pelangi…..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s