Membongkar Bias Normalisme dalam Tiga Teori Sosial

Slamet Thohari

Yang Terlupakan

Sudah menjadi keputusan sejarah bahwa manusia selalu saja berusaha mencari jawaban terhadap fenomena yang dihadapi. Keterkaitan manusia untuk terus menggali dan ingin mengetahui segala sesuatu seolah-olah menjadi “takdir” akan keberadaan manusia itu sendiri. Hal yang demikian tak lain karena hakikat manusia yang sedari awal mempunyai perbedaan besar dengan makhluk-makhluk lain (hewan dan tetumbuhan), yaitu kekuatan akal yang lebih dibanding dengan yang lain. Dengan akallah manusia menjadi spesies yang paling berpengaruh dalam perubahan peradaban mahluk hidup (Blackmoore, 1999: 69–81 ). Pepatah Arab mengatakan, “Manusia adalah hewan yang berbicara menggunakan akal.” Karena itu, “Kalau bukan karena ilmu pengetahuan, sungguh, manusia hanyalah seperti hewan.” Dan memang, ingin mengetahuhi dan memahami (sinverstehen), kemudian menjelaskan (erklaren), menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dari kedirian manusia sejak zaman dahulu. Inilah pula yang menjadi dasar lahirnya teori-teori sosial dan pergulatannya sepanjang sejarah kehidupan manusia (Craib, 1994: 11).

Namun begitu, selalu saja ada yang terisih dan terlupakan dalam proses perumusan “kebenaran” . Kaum difabel adalah contohnya, selalu tersingkir dan tak terlibatkan dalam proses perumusan teori-teori social yang nota bene-nya adalah alat analisis. Hingga kebenaran pun adalah rangkaian kenyataan yang dipilih untuk meneguhkan “keyakinan” tertentu, menbuang yang dianggap menyulitkan. Kaum difabel pun disingkirkan dari proses itu, sehingga hal yang ada dalam masyarakat luput dari kehadiran difabel (Davis 2000: 24).

Ini terjadi karena semangat zaman (zeitgeist) yang ada dalam penentuan kebenaran itu memang sangat bias normal. Perkembangan paham evolutionism dan statistic untuk mengukur masyarakat seperti yg dikembangkan oleh Thomas Malthus, Charles Babage dan Galton menganggap mereka yang menjadi target perubahan atau kebijakan adalah mereka yang berada dalam ketegori “the average people” “the normal people ”. (Davis 2000: 31). Gagasan mereka inilah yang nantinya menjadi ilham bagi kebijakan eugenic.

Rasionalitasnya, untuk mencapai tujuan tertentu maka dibutuhkan target utama dan yang umum adalah mereka yang rata-rata, “normal”. Maka “distribusi normal” pun sangat dibutuhkan, mereka yang berada dalam kurva “normal” adalah mereka yang diperhitungkan”. Sedang mereka yang berada dalam pinggir kiri ataupun kanan adalah “deviasi” atau penyimpang. Sebagaimana dalam gambar di bawah, jika yang dianggap kebenaran adalah 99% maka kaum difabel adalah 0.5%, dan jika standard asumsi kebenaran adalah 95% maka kaum difabel adalah mereka yg berada dalam 2.0 %.

Kurva normal dan standard deviasi

Dalam nuansa yang seperti ini, tak mengherankan jika kemudian teori-teori social yang merupakan alat baca sekaligus alat untuk menerangkan realitas sosial sangat bias ideology normal dan menjadi bagian dari proses kontruksi “normalisasi” masyarakat yang menyingkirkan kaum difabel. Untuk itu, artikel ini bermaksud memberikan elaborasi beberapa teori social dan hubunganya dengan difabel. Dalam elaborasi ini, sungguh sangat menjelaskan bagaimana “ideologi normalisme” sangat akut sehingga memberikan pengaruh yang kuat dalam teori-teori sosial yang ada dalam sejarah.

Bias normalisme dalam Teori sosial

Karl Marx adalah salah satunya, Marx percaya akan rata-rata dan kondisi normal sebuah kesehatan atau badan seseorang. Dalam ulasanya terkait dengan dunia buruh dan produksi kapitalis, Marx mempercayai bahwa ada konsepsi “average labor” dalam masyarakat, namun tak pernah disinggug mereka yang berada di luar “average”. (Marx, 1978:352). Demikian pula saat Marx menyatakan karakter perihal buruh yg “skilled” dan buruh yang “unskilled”, tak terbresit pun di sana usaha menyentuh tubuh atau difabelitas menjadi bagian dari penentu sebuah karakter buruh. Lantas bagaimana dengan buruh difabel? Bukankah mereka mengalami kemmapuan yang berbeda karena konstruksi social dalam kompetisi kapitalis (Marx, 1978: 360) Marx jelas-jelas melupakan unsure-unsur kehidupan difabel dalam teorinya. Statementnya tentang buruh normal dan “buruh rata-rata” mengindikasikan pengaruh “enforcing normalcy” dalam teori-teorinya. Lebih dari itu bahkan Marx percaya akan “kesehatan normal” yang menjadi penting dalam dunia produksi.

But by means of the price that you pay for it each day, I must be able to reproduce it daily, and to sell it again. Apart from natural exhaustion through age &c ., I must be able on the morrow to work with the same normal amount of force, health and freshness as to-day. You preach to me constantly the gospel of “saving” and “abstinence.” (p.363)

Dari penjelasan Marx soal “normal amount of force, health and freshness” sungguh tak ada usaha mempertanyakan apa itu “kesehatan normal” dan seterusnya. Ini menunjukan Marx percata begitu saja akan apa yang telah menjadi konstruksi saat itu. Dengan demikian, Marx menyetujui begitu saja dan menjadi bagian dari produsen konstruksi “normalisme” yang sangat menentukan bagi terdiskriminasinya kaum difabel dalam masyarakat.

Demikian pula dengan Emile Durkheim (1997) sangat bias normal. “what holds society together”, merupakan inti dari gagasnya. Dalam masyarakat yang olehnya terfragmentasi berdasar In modern society people are fragmented in various interests (division of labor) yang menghasilkan kemunduran masyarakat (Durkeim 1984). Saat inilah muncul apa yang olehnya disebut sebagai “anomie”. Sampai di sini pun, Dhurkheim tak memberikan ulasan soal difabel. Bahkan lebih dari itu Dhurkheim menyinggung masalah “devian” yang tentu sesuai dengan standar-standard kenormalan yang telah ada dalam masyarakat. Secara lamat-lamat kita dapat memungut biar normal dari gagasan Dhurkeime.

Gagasan Dhurkhaim akan normalitas sangat jelas dalam analisanya soal kasus “bunuh diri” (Durkheim 2005). Dalam ulasanya di sana jelas dia mengikuti analisis para psikolog perihal manusia normal dan tidak normal. Bahkan dalam Bab dua dia memberikan judul “ Sucide and and The Normal Psychological state—race heredity”.
J.G Perestiny seorang penasfir Durkheim dalam pengantarnya di buku Durkheime Sociology and philosophy juga mempermasalahkan ini “If I were asked what I believe to be the basic problems of Durkheimian sociology and therefore the true guides to his thought, I would answer: The relation between Average, Normal and Ideal, and his conception of Creative Synthesis” (Perestiny 1997 dalam Durkheim 1997: ix) , demikian tegas Peristiany. Sucide merupakan karya Dhurkeim yg paling nyata, di mana dia mempercayai akan kondiri normal, keadaan normal dalam masyarakat maupun individu (Durkheime 2005: 30-51). Dengan demikian, bias normal dalam teori yang dibangun Durkheim juga menjadi bagian apa yang oleh Davis disebut “enforcing normalcy”.

Hal yang sama juha terjadi pada tulisan Harbert Mead salah satu pendiri sosiologi Makro. Dalam teorinya, mead mengatakan bahwa jalinan social terbentuk karena adanya proses kontak atau penanda yang disana terdapat semacam “agreement” sehimgga yang menerima tanda mengerti. Lantas bagaimana “agreement” itu terproduksi? Bukankah setiap orang mempunyai nalar dan daya tangkap terhada tanda yang berbeda-beda? Bagaimana dengan difabel netra dan difabel rungu. Semuanya dilupakan. Bangunan teori ini dilandaskan bahwa seolah-olah hubungan manusia yang tidak difabel. Yang lantas argument Mead pun gagal menjelaskan banyak hal terkait dengan komunikasi kaum difabel. (Mead….)

Jika kita tengok argument Mead perihal “I” and “Me” (semacam Ego dan super ego dalam teorinya Freud). Di sana Mead tak menyinggung sedikit kapasitas indera dan kemampuan indivividu sebagai penentu antara “I” dan “Me”. Dengan demikian, bahkan Mead menjelaskan perihal bahwa apa yang dijelaskan adalah yang terjadi pada manusia secara umum. Dengan demikian untuk kesekian kalinya, Mead terjebak pada logika “general” “normal” “average” sebagaimana telah dibangun dan direproduksi dalam ilmu sosial (Mead….)
Lain halnya dengan Tolcott Parsons yang mengangap bahwa masyarakat adalah sebuah system yang terdiri dari berbagai aspek dan unsur yang saling menjalin dan menopang demi terjalinya sebuah “keseimbangan”. Untuk itu, masyarakat mempunyai fungsi adaptive, cita-cita sebuah kelompok, bentuk dan proses penjagaan system dan fungsi integrative (Parson, 1951)

Parson mengatakan bahwa keseimbangan merupakan konsep penting untuk memelihara sebuah sisterm berjalan sehingga sebuah masyarakat berkembang. Untuk itu, masyarakat perlu dikontrol. Mereka yang dianggap “menyalahi” keseimbangan dianggap “social deviant” dan perlu di luruskan. Di sini orang sakit dianggap sebagai orang yang keluar dari maka rumah sakit sangat dibutuhkan sebagai alat untuk meng-institunalisasi kan mereka dan agar tidak menganggu sebuah system.

Dari sinilah ide-ide kaum difabel ditempatkan khusus di SLB atau panti-panti asuhan. Mereka dianggap sakit,
untuk itu mereka setidaknya musti direhabilitasi dan dilatih dengan berbagai keahlian: menjahit, sol sepatu, dan lain lain. Mereka adalah orang-orang yang dianggap tidak normal, untuk musti dinormalkan agar kembali menjadi bagian masyarakat untuk menuju keseimbangan. (Parson 195: 37).

Fungsionalisme strukturalisme adalah salah satu pendekatan penting yang berpengaruh dalam berbagai kebijakan kaum difabel. Fungsionalisme-Struktural adalah paham yang digagas oleh Parson yang mempunyai banyak dampak pada berbagai kebijakan difabel di dunia. Untuk melihat ide Talcott Parsons, dapat kita pungut misalnya soal ICIDH yang menjadi kebijakan WHO tahun 70-an yang memberikan effek sagregatif pada kaum difabel Pfeiffer, D. (1998; 2000) Apa yang dikembangkan oleh Parsons sangat jelas sekali bagaimana bias-bias normal meresap dalam pemikirannya.

Normal dan tidak normal adalah semacam kontruksi, dalam setiap kontruksi selalu saja ada penipuan dan ketidak benaran. Sebagaimana air yang laut, tak pernah benar-benar biru, akan tetapi konstruksi yang ada adalah biru. Siapa yang menjamin air laut itu biru? Siapa yang menjamin langit itu biru? Tak jelas. Demikian pula dengan kaum difabel. Jika sebuah pulau terdiri dari semua orang bertangan satu, jika sebuah pulau terdiri dari semua orang bekaki satu maka yang normal adalah orang berkaki satu, dan mereka yang berkaki dua akan dianggap tidak normal. Untuk itu konsep normalitas yang dibangung dalam teori sosial sungguh mereduksi ilmu sosial itu sendiri. Karena dengan begitu teori sosial dibangun dari sebuah basis yang tidak valid dan tidak jelas kebenaranya.

Hal demikian juga terjadi pada banyak pemikiran-pemikiran yang lain. Hingga kemudian Foucault mengungat dan dengan tegas mengatakan bahwa perihal normalitas adalah produksi dari sebuah system yang sangat sarat hubunganya dengan kebutuhan material sebuah zaman sebagaimana dikatakan The normal is… estbalished in the standardization of industruial processes…the forces of the body (in economic term of utility) and diminishes these same force (in term forces of obidience) Terdapat banyak sekali berbagai bias teori sosial yang tidak bisa satu persatu untuk dikulas di sini. Empat teori yang saya singgung di atas merupakan salah satu contoh bagaimana usaha “mengkuliti” bias-bias normal dalam analisa teori sosial yang menjadi cara pandang akademisi yang tentunya memeberikan efek pada realitas: politik, sosial dan budaya.

Pada pemikir-pemikir modern, maka akan kita jumpai banyak aliran pemikiran yang saling bertarung. Keduanya menggunakan berbagai nalar dan pendekatanya masing-masing. Misalnya Empirisme, sebuah paham yang menekankan bahwa realitas sosial adalah apa yang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Lantas bagaimana dengan difabel yang tidak bisa melihat dan mendengar? Bagaimana mereka memperoleh realitas sosialnya?. Demikian pula dengan kaum rasionalis yang menekankan kalkulasi akal manusia yang sangat terbatas kemampuanya. Bagaimana dengan mereka yang lambat berpikir? Bagaimana dengan mereka yang mempunyai kemampuan berpikir berbeda? Apa standard yang layak dipakai untuk mengukur sebuah rasionalitas?. Beberapa pertanyaan ini benar-benar luput dalam refleksi para filosof. Unsur-unsur difabelitas benar benar tak terpikirkan dan tak tersentuh menjadi bagian dari perumusan “kebenaran” kaum difabel dalam merumuskan pemikiranya.
Tengok Plato yang mendamba keperkasaan tubuh dan merestui pengeyahan Bayi Difabel di bukit Tagatos. Para rasionalist yang mempercayai akal manusia, atau kaum empiris yang mempercayai indera seperti halnya Berkeley yang extreme bahwa realitas yang kita lihatlah yang nyata. Dan seterusnya.

Dari ulasan di atas jelas bahwa teori sosial juga turut menjadi peneguh “ideology normalisme” yang kemudian direproduksi dalam sistem masyarakat sehingga seolah-olah tak ada apa-apa yang terjadi dalam mayarakat. Ideology normalisme inilah yang menjadikan maraknya kejahatan Eugenik dan selective breeding di Eropa hingga saat ini dan pembunuhan kaum difabel di Jerman saat zaman Nazi.

Problem yang sangat akut yang dialami kaum difabel adalah pemikiran manusia yang sangat bias normal. Berbagai pembongkaran sistem dominan merupakan usaha untuk memberikan ruang agar kaum difabel mempunyai urang untuk berbicara. Untuk itu dengan melakukan pembongkaran teori sosial berarti melakukan pembongkaran pola pikir dan analisa manusia. Dengan demikian, kuasa normalisme dalam berbagai lini masyarakat akan terkikis, sehingga kaum difabel mendapat posisi sebagaimana orang yang lain.

Slamet Thohari adalah seorang pendekar!

References

Pfeiffer, D. (1998) “The ICIDH and the Need for its Revision”. Disability & Society, 13 (4), 503-523
Pfeiffer, D. (2000) “The Devils are in the Details: the ICIDH2 and the Disability Movement” in Disability & Society, 15 (7), 1079-1082
Mead, George Herbert, 1969, Mind, Self, and Society: From the Standpoint of a Social Behaviorist University of Chicago Press: Chicago
Marx 1978, “Capital Volume 1” dalam Stucker, Robert (Editor) Karl Marx Engels Reader: Second Edition London dan New York: ww Norton and Company.
Parson, Talcott, 1969, The social System London: Rutledge
Durkheime, Emile, 2005 Suicide: a Study in Sociology London: Rutledge
Davis, Leonard J 1995 Enforcing Normalcy Verso: London
Black Moore, Suzan, 1999, The Meme Machine: Oxford University Press: London

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s