Difabel dalam Pandangan Islam yg Saya Kira

Slamet Thohari
Pengurus Nahdlatul Ulama US-Kanada
Anak yang Kadang-kadang keren dan kadang2 Menyebalkan
The one duty we owe to history is to rewrite it
(Oscar Wilde)
Kebudayaan Arab adalah sebuah sistem yang membungkus nilai-nilai Islam. Sudah barang tentu, sebagaimana kebudayaan yang lain, juga mempunyai idealisasi dan utopianisme tertentu. Idealisasi tentang kebaikan, ketampanan, kecantikan, norma, kesopanan dan seterusnya. Jelasnya, Islam hadir di negeri Arab, terikat yang oleh Jabiri disebut imaji-imaji sosial (al-mikhyâlul ijtimâ‘i) yang sedang sedang meresap dalam masyarakat Arab.

“Zaman Jahiliyah” (Zaman kebodohan), demikian banyak orang menyebut masyarakat Arab sebelum Islam. Ini merupakan sebuah ungkapan untuk sebuah masyarakat yang betul-betul kejam, keras dan tak ada moral yang mampu megantarkan mereka dalam tatatanan kedamaian. Perang dan pertikaian antar suku merupakan semangat yang telah menyelimuti masyarakat Arab. Suku-sakuu saling bertikai, dan mengusung fanatisme buta yang menghasilkan peperangan. Setiap suku mempunyai fanatisme disebut sebagai muru’ah. Yakni, semacam fanatisme dan pandangan kejantanan kesukuan untuk membela mati-matian atas sukunya. Pembunuhan seseorang dari suku lain menjadi biasa, apa bila suku tersebut dianggap menghina suku tertentu. Muhammad lahir dari Suku Quraish. Sebuah suku yang juga memuja kekerasan dan keperkasaan.

Itulah jaman Kebodohan. Bayi-bayi perempuan dibunuh (infanticide). Karena tidak berkesesuaian dengan imaji masyarakat yang kuat. Nabi Muhammad pun pernah mengimpikan, umat Islam yang kuat. Umat Islam setidaknya musti bisa berenang, memanah, bergulat, berkuda dan seterusnya. Tubuh yang sehat adalah jubah, bagi jiwa yang sehat, demikian semboyan kaum muslim. Dan banyak lagi postulat-postulat agama yang mempunyai semangat keperkasaan tubuh. Yang lantas bagaimana dengan mereka kaum difabel?

Yang Lantas bagaimana mungkin tuna netra musti memanah, tuna daksa musti bergulat, naik kuda dan seterusnya. Jadi, Islam pun tak bisa dilepaskan dari sebuah produk budaya keperkasaan, sehingga Islam sangat bias akan “normalisme”. Dalam banyak hal, berbagai format ibadah keagamaan Islam pun tampil dengan berbagai unsur-unsur yang abai terhadap orang difabel. Haji yang menuntut fisik, idealisasi shalat yang berdiri dan seterusnya. Dari sinilah bias-bias normalisme yang diperoleh dalam masyarakat Qurais melekat erat.

Sebagai gambaran yang lain, bisa kita lihat pada kondisi mereka yang penderita penyakit lepra, sebuah penyakit yang dapat pula menyebabkan beberapa organ manusia menjadi putus, kulit yang memutih dan mengelupas. Abid ibn al-Alabras adalah salah satu orang yang menderita peyakit tersebut. dalam bahasa Arab, kata abras adalah “menjadi putih”. Karena penyakit itulah, kemudian Abid mendapat julukan Abid ibn Al-Abras. Lepra dalam masyarakat arab kemudian dikenal sebagai judham, yang berarti sesuatu yang menjadikan buntung. Perihal penyakit ini, dalam Alqur’an juga bercerita, sebagaimana injil, tentang Nabi Musa (Moses) yang mampu menyembuhkan penderita penyakit lepra.

Tampaknya sikap menjahui penyakit ini juga terdapat dalam masyarakat Arab, bahkan Nabi Muhammad sendiri bahkan pernah mengatakan bahwa kaum muslim setidaknya mesti menjahui penderita Lepra seperti menjahui singa yang liar dan ganas. Dalam versi yang lain Muhammad juga menganjurkan bahwa setiap muslim sebisa mungkin menjahui penyakit ini dan apabila terdapat orang yang menderita ini sebaiknya orang-orang memasang jarak agar tidak tertular

Bahkan Lepra oleh sebagian masyarakat Arab saat itu juga dipahami sebagai sebuah kutukan dari Tuhan karena tindakan seseorang yang tidak sesuai dengan moral atau sebuah kesalahan besar yang telah dilakukan oleh si penderita. Lepra adalah hukuman atas kesalahan manusia. Karena Penderita Lepra yang puntung dan dianggap sebagai penyakit yang membahayakan, maka banyak hak-haknya dalam masyarakat kemudian terbatasi, bahkan sama kedudukannya dengan orang gila dan budak. Tardapat pula hukum agama yang memberikan keabsahan bagi mereka yang menikah untuk menceraikan apabila ternayata pasangan yang dinikai tersebut terdeteksi menderita penyakit tersebut. Imam Maliki yang terkenal memiliki rumusan hukum Islam (fiqh) relative luwes, juga membenarkan seseorang untuk meninggalkan pasangannya karena penyakit/difabelitas yang diderita.

Bias Islam atas “orang normal” juga dapat kita temukan pada banyak hukum-hukum agama, yang selalu menomorduakan orang difabel. Seperti untuk menjadi imam shalat, menjadi pemimpin negara dan seterusnya. Jadi, ada banyak kuasa yang terselinap dalam pemahaman Islam. Salah satu kuasa yang paling akut adalah kuasa “orang normal”. Pada kesekian kalinya, sebenarnya ajaran dan doktrin agama diuji agar lebih manusiawi. Setiap doktrin adalah sebuah siasat. Meyisihkan dan menyisir rentetan realitas. Berbagai apologi dan alasan diperjuangkan, demi sebuah tujuan peneguhan makna kebenaran. Kebenaran yang sudah dianggap “benar”, kemudian menjadi keyakinan. Seringkali secara terus menerus “kebenaran” tersebut direprodusir hingga tak tergoyahkan. Berbagai hal yang terbengkelai tak terpikir lenyap dan tak pernah diperhitungkan. Demikian yang terjadi pada realitas difabel. Dalam sejarah agama-agama, terlupakan, tersisih dalam proses perumusan “kebenaran” yang bakal menjadi sesuatu bannget #Eeaaa
Ini pun terkait dengan kehadiran agama itu sendiri. Selalu hadir dan ingin menjadi lebih diterima bagi masyarakat secara massif. Hingga agamapun tak jarang bersikap politis untuk konteks ruang dan waktu. Apabila masyarakat menuntut kepentingan tertentu, maka agama pun lentur bersiasat menyesuaikan dengan musim kepentingan yang sedang menyelimuti masyarakat. Yang lantas lantas, bagaimana jika kepentingan mayarakat mengindap kuasa “normalitas”, menjunjung tinggi nilai-nilai keperkasaan, mendamba akan kesempurnaan tubuh demi tujuan tertentu. Sudah pasti, agama seperti biasa, terkadang bersirkulasi mendukung berbagai kepentingan tersebut. Jadi Islam pun dapat dijadikan cerminan untuk memotret benderangnya kondisi kaum difabel, karena Islam juga melakukan proses politis agar diterima dalam masyarakat. (Sory, agak liberal dikit. Ampyuuun ya Allah)

Ada memang dalam postulat agama Islam yang menyatakan tidak boleh bermuka masam tarhadap “orang buta”. Namun betapa banyak atribut-atribut lain menguntungkan “orang-orang normal”. Ibadah haji, shalat, merupakan ibadah politik tubuh manusia. Memang, terdapat ajaran, shalat boleh duduk, boleh berbaring, karena sebuah alasan. Namun yang ideal tetap saja berdiri, sebab duduk dan tidur hanyalah kelonggaran (rukhsoh). Setiap kelonggaran adalah tidak formal, dan tidak ideal atau pengecualian (istisna’).

Simak pula doktrin-doktrin Islam yang terkait dengan negara. Kitab Mawardhi, Ahkamu Asshultoniyah , merupakan suatu contoh yang menekankan bahwa pemimpin yang baik dalam Islam adaah laki-laki yang tidak menggindap ketunaan atau kecacatan khususnya indra (khawas). Alasan ini pula, seringkali oleh banyak kalangan muslim fundamentalis yang merasa eksespsionalis, menentang Gus Dur yang tuna netra itu sebagai presiden.Ini pula yang terjadi pada pemahaman tentang hewan kurban yang tidak diperbolehkan cacat. Sebab “kecacatan” adalah masalah yang buruk sekali bagi orang arab saat itu. Untuk itu, segala yang cacat tidak layak dihadapkan pada Tuhan.

Agama untuk kesekian kalinya hadir berpolitik untuk kontek tertentu: konteks Arab. Jika memilih hewan yang sempurna adalah masalah pengujian keseriusan dan keikhlasan, kenapa cacat menjadi simbol ketidakseriusan?. Bukankah tetap nikmat, daging kambing yang pincang kakinya?. Demikian lah imaji dan konsepsi budaya Arab saat itu, difabel menjadi cerminan akan keburukan.

Terdapat sebuah cerita yang telah beredar banyak bagi kalangan Muslim di Indonesia. Suatu hari, Imam Syafi’i, seorang Imam yang banyak dianut di negeri ini melakukan jalan-jalan di pinggir kali dan menemukan Delima. Delima tersebut kemudian dimakan olehnya, namun baru baru setengah buat tersebut dinikmati, mendadak dia ingat akan gurunya. Lantas dia melaporkan apa yang terjadi pada sang guru. Sang guru marah, karena buah delima yang dimakan tersebut berasal dari pohon kepunyaannya. Imam Syafi’i tidak meminta izin terdahulu sebelum memakannya. Lalu Imam Syafi’i pun meminta maaf atas tindakannya tersebut. Dia bersedia menerima hukuman apapun agar kesalahannya dapat dimaafkan oleh sang guru.

Sang guru menghukum Imam Syafi’I dengan mewajibkannya menikahi anaknya, yang buta, bisu, tuli, dan pincang. Sebenarnya ini merupakan ujian keihlasan dan kesabaran bagi Imam Syafi’i agar dia tetap menerima apapun dan siapapun. Karena kesalehan Imam Syafi’i, akhirnya dia menerima keputusan untuk menikahi anak sang guru yang digambarkan sebagai seorang putri yang multi-difabel terebut. Namun, siapa sangka, seorang putri bukanlah “orang cacat” sebagai mana dilukiskan guru sebelumnya. Bahkan sebaliknya putri guru tersebut sangat cantik jelita.

Gambaran akan difabelitas terlihat jelas dari cerita ini. kondisi masyarakat Arab saat Islam merupakan sutuasi keburukan, kehinaan, sehingga putri yang difabel tersebut musti menjadi simbol untuk bahan ujian bagi seseorang. Kenapa difabilitas kemudian menjadi simbol untuk menguji kesabaran seseorang? Tentu karena difabelitas merupakan posisi dan situasi keburukan. Sikap menerima keburukan dan kehinaan seseorang menjadi ujian.

Selain ini unsur-unsur normalisme juga terdapat dalam pemahaman atas al-Qur-an. Dalam Surat Alhajj ayat ke-lima yang berbunyi
“…bahwa kami (Allah) telah menciptakan manusia dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian dari segumpak darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya (Mukhallaqotin) dan yang tidak sempurna (wa ghoira mukhallaqotin) agar kami jelaskan kepadamu, dan kami tetapkan sesudah itu sesudah rahim apa yang kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi dengan ber-angsur-angsur supaya kamu dewasa”

Banyak penafsiran pada ayat ini. Imam Athabbari salah seorang ulama tafsir memberi makna bahwa mukhallaqoh dalam ayat tersebut adalah “orang normal” dan dalam keadaan sempurna lengkap degan anggota fisik seperti selayaknya orang yang dianggap nomal sekarang. Sedang makna ghoira mukhallaqoh adalah bayi yang lahir tetapi belum sempurna (fisik) atau gugur, atau mati dalam kandungan. Dengan begitu, bagi Athabari, kata mukhallaqoh adalah sifat nutfah yang menjadikan manusia itu “sempurna” atau “tidak sempurna”

Hal senada juga juga pada penafsiran al-Baidlawi dan al-Qurtubi yang berpijak pada ulama sebelumnya Ibnu Zyid dan Alfarra’. Bahwa mukhallaqoh mempunyai arti “sempurna” seperti mempunyai dua tangan dan dua kaki tanpa cacat. Dan begitu pula dengan ghoira mukhallaqoh adalah mereka yang lahir memiliki “ketidaksempurnaan”, memiliki “cacat” pada tubuh-tubuh mereka. Sedangkan al-Maraghi memaknai ghoira mukhallaqoh sebagai orang yang lahir dalam kondisi pendek, kerdil atau dalam bahasa keseharian disebut cobol[2]. Beranjak pada beberapa tafsir ini, pertama al-Quran menggunakan istilah mukhallaqoh . Kata ini berasal dari kata khallaqo-yukhalliqu yang berarti mencitakan. Kata Muhkahllaqoh merupakan isim maf’ul (objek dari sebuah subjek) yang berarti tercipta. Dengan begitu mereka yang mukhallaqoh adalah mereka yang tercipta. Sedangkan ghoira mukhallaqoh berarti “tidak/belum tercipta”/” Ghoira: belum atau tidak.

Pertanyaannya kemudian, kenapa difabel mendapat julukan Ghoira. Makna Ghoira mempunyai konotasi “tidak”. Kata Wa ghoruha, misalnya, mempunyai arti: dan yang lainnya. Ini berarti difabel mendapat label menjadi “yang lain” (the other). Difabel masih dianggap sebagai mahluk yang belum tercipta, atau belum sempurna. Lantas apakah makna sempurna itu? Apakah yang menjadi standard kesempurnaan? Bukankah kesempurnaan dan kecacatan adalah konstruksi sosial?. Untuk itu, tafsir yang lebih ramah atas ayat ini merupaka suatu keharusan. Tafsir-tafsir dari ulama-ulama tersebut sangat bias akan kuasa kebudayaan Arab yang sangat serat dengan normalisme.

Dus, banyak nilai-nilai agama yang bias dengan kenormalan. Dari beberapa atribut yang dipungut dari nilai-nilai Islam ini, dapat dicerna bagaimana secara lamat-lamat Difabel dalam pandangan masyarakat Arab saat itu. Islam, seberapaun kuat kehadirannya untuk melakukan transformasi untuk perubahan masyarakat yang lebih baik dalam konteks itu, masih juga sarat dengan nilai-nilai budaya Arab. Dari sini, sebenarnya kita dapat menelaah berbagai gambaran sejarah masyarakat Arab sebelum dan saat Islam sedang berlangsung.

Islam merupakan agama, sebagaimana kebiasaan agama, selalu mempunyai banyak makna. Islam musti dipahami sebagai rentetan perjuangan yang musti diteruskan, semangat, gagasan dan tujuan-tujuan dari aturan-aturan (maqosidh syari’ah) yang diterapkan. Islam telah berhasil melakukan perubahan besar, merubah zaman amburadul menjadi lebih menghargai hak asasi dan martabat manusia. Pembebasan budak, anjuran orang untuk saling membantu antarsesama, memperjuangkan kaum lemah, dan seterusnya. Membolehkan poligami hanya empat orang musti dipandang dengan kaca mata konteks masa itu. Sungguh, kita terlalu berlebihan jika kita menilai pembolehan poligami sebagai ketidakadilan dengan kacamata hak asasi kontmporer. Apa yang telah dilakukan Muhammad sungguh sangat luar biasa, sekalipun poligami adalah perkara yang tidak adil jika menggunakan ukuran sekarang.

Untuk itu, semagat perubahan Muhammad musti diteruskan dan dilanjutkan ke wilayah konteporer, dengan cara menafsirkan dan merumuskan nilai-nilai Islam yang lebih manusiawi. Sebab yang menjadi warisan inti dari ajaran Muhammad adalah prinsip perubahan. Dan itu musti diteruskan, bukan dipahami sebagai sebuah paket yang sudah jadi yang dapat diterapkan di berbagai tempat dan waktu. Dengan begitu menata ajaran-ajaran agama agar berkesesuain dengan visi perubahan demi terciptanya keadilan merupakan tindakan yang berkesesuaian dengan apa yang diharapkan oleh Muhammad. Jika banyak atribut-atribut Islam yang sarat dengan normalisme dan tidak berkesesuaian dengan nilai-nilai hak asasi manusia, dalam konteks ini bagi hak-hak kaum difabel, maka setidaknya nilai-nilai tersebut menjadi bahan untuk didekontruksi yang kemudian ditata kembali agar lebih ramah dan berkesesuaian dengan nilai-nilai keadilan dan hak asasi.

Pandangan Baik

Sekalipun banyak nilai-nilai Islam yang sarat dengan normalisme, akan tetapi ada banyak pula unsur-unsur perubahan dan nilai emansipatoris untuk menempatkan difabel sebagai bagian dari masyarakat. Sebagai misal dalam surat Abasa
“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihka dirinya (dari dosa). Dia ingin pendapatkan pengajaran, lalu mengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu, kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapat pengajaran), sedang ia takut pada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sesekali jangan (demikian!), sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah sebuah peringatan”.

Ayat ini turun, sebagai sebuah peringatan atas Muhammad. Suatu saat Nabi sedang asyik menjamu beberapa tamu dari pembesar-pembesar Quraiys. Lalu tibalah datang. seseorang sahabat tuna netra bernama Abdullah bin Umi Maktum. Abdullah ingin bertemu dan bertatap muka dengan Muhammad untuk belajar banyak hal tentang Islam. Akan tetapi, Muhammad bermuka masam dan mengabaikan tuna netra tersebut. Seketika Allah memberikan peringatan ata tindakan Muhammad yang Tengsi!.

Ibnu Maktum ini kemudian menjadi salah satu sahabat Nabi, dan bahkan menjadi salah satu seorang yang mendengungkan panggilan shalat (muadzin). Dan tak jarang Ibnu Maktum diposisikan mengantikan posisi Nabi pada saat Nabi sedang mempunyai urusan keluar. Selain itu, sekalipun karena difabilitasnya yang tidak memungkinkan untuk ikut berperang, Ibnu Maktum terlibat sebagaimana yang .lainya dalam peperangan bersama Nabi. Suatu waktu, dia berkata pada Rosul “ pada suatu hari, Ya Rosul, tempatkan aku dalam berada dalam tenga-tengah barisan dan beri aku pegangan, dan apa yang musti aku kerjakan. Aku akan menjaganya, dan aku akan melindunginya, karena saya buta, aku tidak bisa berlari sebagaimana yang lainnya”. Dan Ibnu Maktum memang terlibat beberapa peperangan bersama Nabi, hingga akhirnya dalam sebuah peperangan dia meninggal membela Islam agamanya.

Dalam sebuah hadist yang lain juga diceritakan bahwa Rosulullloh suatu hari ditemui oleh seorang tuna netra. Tuna netra tersebut menanyakan akankah dia harus pergi ke masjid untuk shalat jamaah, sedang dia tidak mempunyai orang yang akan mengantarkan/menuntun untuk sampai ke masjid. Rosul Muhammad pun membolehkan bahwa dia tidak harus ke masjid. Lantas nabi menanyakan dia perihal apakah dia mendegar suara adzan dari masjid. Sang tuna netra menjawab bahwa dia mendengar suara adzan. Pada konteks masyarakat Arab saat itu, dimana tidak ada penguaras suara seperti sekarang, mereka yang masih menengar suara adzan berarti jarak dengan masjid sangat dekat. Mengetahui kondisi ini, Muhammad pun menganjurkan tuna netra tersebut untuk ke masjid. Cerita ini memberikan gambaran bahwa setidaknya seseorang musti diharapkan melakukan sesuatu berdasar kemampuan yang dimilikinya. Sekalipun tuna netra Muhammad tidak membedakan, jika memang dia mampu melakukannya tidak ada pengecualian khusus baginya. Ini merupakan decak-decak inklusifitas masyarakat bagi difabel, tentu saja pandangan ini, sangat melampui zaman saat itu.

Kata a’ma dalam alquran berasal dari amiya, yang berarti tidak bisa melihat. Terdapat 32 kata a’ama/amiya di dalam Qur,an. Kata A’ma dipilih menjadi diksi, karena dirasa lebih halus: tidak bisa melihat. Terdapat kata lain yang mempunyai makna sama yaitu dhariir, yang mempunyai arti tidak punya pengelihatan (Hampir semua kata A’ama dalam Al’quran mempunyia makna orang yang tidak mampu menangkap tanda-tanda kemulyaan Allah, orang yang tidak bisa melihat spiritual guidance, orang yang tidak bersyukur dan seterusnya. Hanya terdapat tiga tempat dimana A’ama mempunyai makna spesifik tidak bisa melihat secara fisik. Dalam tiga ayat ini pun, Qur’an memberikan ujaran tidak membeda-bedakan difabel. Sebagaimana tergambar dalam surat Annur ayat 61

Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, tidak bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapak kamu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudara-saudaramu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu memiliki kuncinya, atau dirumah kawan-kawanmu, tidak ada halangan bagi kamu makan bersama mereka atau sendirian…

Sekalipun begitu dalam dalam ayat yang lainnya, Alqur’an juga memberikan “pengecualian” bagi difabel. Sebagaimana tertuang dalam surat Alfath ayat 17 juga dijelaskan
Tiada dosa atas orang-orang buta, dan atas orang-orang yang pincang, dan atas orang-orang yang sakit, dan atas orang yang sakit (apa bila tidak ikut berperang), dan barang siapa yang taat pada Allah dan Rasulnya, maka Allah akan memasukkannya dalam syurga, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan barang siapa yang berpaling maka niscaya akan diadzab dengan adzab yang amat pedih.

Di dalam Qur’an juga menggunakan kata bisu (bukm), terdapat enam ayat yang meggunakan kata ini. Semua kata bukm tersebut digunakan untuk memberikan analogi yang mempunyai makna orang yang tidak berada di jalan Allah bukan dimanai sebagai seorang yang benar-benar bisu secara fisik, tidak bisa bicara. Sebagai contoh
“Mereka bisu, tuli dan buta maka tidaklah mereka kembali ke jalan yang benar”

Dalam ayat ini, difabelitas menjadi perumpamaan bagi orang-orang yang tidak kembali ke jalan Allah. Dalam ayat yang lain juga ditemukan dalam surat Albaqoroh ayat 117 dan surat al-Anfal ayat 22

“Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang orang kafir adalah seperti pengembala yang memanggil binatang yang tidak mendegar selain panggilan dan seruan saja (suara). Mereka tuli, bisu dan buta maka oleh sebab itu mereka tidak mengerti”.

“Sesungguhnya (binatang) mahluk yang seburuk-buruknya pada sisi Allah adalah orang-orang yang pekak dan bisu, yang tidak mengerti apapun”

Ayat-ayat ini menunujukan bahwa mereka yang difabel bukanlah dilihat sebagai difabel secara fisik, akan tetapi sebagai orang yang tidak menaati apa-apa yang telah ditentukan oleh Allah. Mereka yang mengabaikan, menutup diri atas berbagai hal yang ditunjukan sebagai bagian dari kekuasaannya.

Begitu pula dengan tuli (summu), dalam Qur’an digunakan 14 kali. Semua ayat tersebut bukanlah dimaknai secara fisik, akan tetapi mempunyai makan mereka yang keluar dari nilai moral yang tidal ditentukan oleh Islam: tidak pernah mendegar dan mengabaikan apa yang diserukan oleh Allah. Sebagaimana ditujukan dalam surat Yunus ayat 41- 42

“Jika mereka mendustakanmu maka berkatalah bagiku pekerjaanku, dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri atas apa yang aku kerjakan, dan aku berlepas diri atas apa yang kamu kerjakan”.

“Dan diantara mereka apakah ada orang-orang yang mendegarkanmu. Apakah di antara kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendegar walaupun mereka tidak mengerti”.

Dalam sebuah hadist juga diterangkan bahwa suatu hari seorang sahabat bertanya kepada Muhammad. “Ya Rosul, apa yang harus kami lakukan sebagai bagian dari Sodaqoh bila kita tidak mempunyai kekayaan (apapun)?. Muhammad membalasnya “Pintu sodaqoh adalah…menuntun orang buta; mendegarkan orang tuli dan orang bisu sampai kamu memahaminya, megantarkan seseorang kepada tujuannya sehingga sampai apabila engkau mengetahuinya, menyegerakan kakimi untuk menolong orang yang sedang membutuhkan, dan menolong orang yang lemah dengan segala kekuatan tanganmu.

Berbagai argumen yang terselip dari ayat-ayat Qur, an tersebut menunjukan bahwa Islam berusaha mengalihkan pandangan difabel dari yang sebelumnya berhak dibunuh dan tidak berguna menjadi bagian dari orang-orang yang musti diangkat. Difabel adalah bagian dari orang-orang lemah yang musti ditolong dan kasihani. Sekalipun banyak usaha untuk mengarahkan Islam menjadi lebih inklusif akan tetapi umumnya postulat-postulat agama tersebut memandang difabel sebagai bagian dari orang-orang lemah (musdtadaafiin) yang mendapat uluran tangan.

To be continued………………..Besok dilanjutin dech…masak dulu….:)

Advertisements

2 responses to “Difabel dalam Pandangan Islam yg Saya Kira

  1. usul penulisan ‘oleh Muhamad’ sebaiknya diganti menjadi ‘oleh nabi Muhamad saw. supaya tdk ada kesan menbenci nabi Muhamad saw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s