Perihal Perjalanan (edisi 3)

“Motor mabur tibani duit, motor mabur tibani duit (pesawat terbang jatuhkan uang, jatuhkan uang)” begitu pekiku, saat masa-masa yang dulu sekali. Bersama anak-anak kecil lainnya, di sawah dekat pasar, di selepan gabah, atau di halaman rumah saat main kelereng. Teman-temanku tak jarang beramai-ramai memekikkan itu, sambil berlari. Aku tak bisa lari, kadang aku duduk saja, atau mencari peganngan. Tapi diam-diam mataku selalu mengamati pesawat itu: seperti apa ya terbang, bisa berkelana.

Madiun hampir malam, aku mengamati pohon-pohon yang berlari, tiang listrik yang berjajar rapi, kabel-kabel memanjang: seperti akuarium besar dari balik kaca jendela bisku. Itu cerita bertahun yang lalu, saat aku mengisi hariku menemukan diri menjadi “aku”. Mungkin edisi kerenya seperti “Sang Alkemis” atau “Aang” dalam Avatar satu-satunya film kartun yang aku sukai.

Itu bertahun-tahun yang telah lewat, saat aku masih selalu memandangi pesawat di atas yang terbang, meski telah agak dewasa. Entahlah, aku tak begitu takut pergi , mesti itu sendiri, naik bisnis atau ekonomi, bagiku sama saja. Sebagai anak muda, ketergesa-gesaan, berbongkah rasa ingin tahu, keberanian, dan semangat ingin melihat yang baru mengalahkan rasa buruk itu, takut. Kadang memang itu ada, tapi sekali lagi, selalu kalah.

Demikian pula perjalananku di bulan Juli, ketergesaan memberikan banyak hal dan tentu cerita. Aku beli tiket yang murah, maklum mahasiswa. Pikiranku selalu saja soal harga, perihal rute, itu tak pernah aku pikirkan. Austin, itu kota pilihanku. Bergeraklah pagi2 aku ke bandara, membawa koper kecil dan tas hitam di punggung. Aku selalu bangga dan merasa gagah dengan tas di punggung dan sepatu pet, ndak tahu kenapa?, tak menarik untuk dijelaskan di sini :p. Gubrak!, aku baru sadar bahwa tiket murah itu rutenya berputar-putar. Pesawat mendarat doi Kona, sebuah bandara kecil di sebuah kepulauan Hawaii. Bandara yang diliputi dengan bau laut, kanan kiri laut, bunga hibiscus, dan penjual kalung bunga-bunga. Tak ada gedung permanen di Bandara itu, bahkan dalam hati aku bertanya, i “ini Amerika atau Wonogiri sih?” (heheheh 😛 )

Mendekam lama di Kona, hujan lebat, menunggu dari jam 11 pagi hingga jam 10 malam. L Angin selalu datang menepuk pundakku seperti berkata “engkau akan baik-baik saja”. Ah lapar dan tak restoran di bandara itu. Vending mechine menjadi “Tuhan kecil”, dia memberiku sebongkah roti dan sebotol soda. Lalu aku pun terlelap, bangun, senyum-senyum sendiri, mengenang apa saja. Mungkin begitu yang dilakukan orang-orang saat menunggu. 😀

Phoenix 19 mei kota yang indah, sepertinya sich. Setidkanya aku melihatnya dari kaca jendela peswatku dan bandara. Sekali lagi aku harus menunggu lama. Duduk di samping nenek yang katanya juga menuju Austin. Nenek ini baik sekali, dia menawariku Pizza yang dibelinya dalam bandara. Dia bercerita soal adiknya dulu yang juga memakai kursi roda, katanya melihatku mengingatkan adiknya. “Nek, aku orang Asia, jelas beda, kulitku coklat dan tidak berbulu, bagaimana bisa mengingatkan itu? Tanyaku, dia menjawab dengan senyum dan bilang “ya saya tahuu itu”. Sepertinya kursi roda telah menyentuhnya, melampui kulit bangsa dan bahasa inggerisku yang tak native!.

Hati gembira, entahlah aku suka tersenyum saat itu. Mungkin seratus tahun lagi, keturunanku bibirnya akan lebar, sebab spesies jenis saya suka tersenyum 😀 Si petualang selalu haus akan tantangan dan hamparan tanah yang akan dijelajah, si romantic selalu menghargai setiap waktu, memberikan makna dan tak akan membiarkan sedikit pun setiap burung, pohon terlewat begitu saja. Daun jatuh, batang-batang yang menua, dan untuk saat itu, aku selalu mengamati awan2 yang berjejal, berbunuk-bunuk , ah kaca jendela itu betapa pentingya, mampu memberikan keindahan 😀

Waduuuh, pesawat putar balik, karena ada masalah. Ooooooh Nooo. Menakutkan mungkin. Tapi ya sudahlan, nasib aja, kalau mati ya mati aja. :P, dan pesawat pun putar balik lagi ke Phoenix dan menungguuuu lagi. Lalu….Mencari rest room, membeli java di Starbuck, segempal Burger King, duduklah aku. Sendiri ga mau peduli. Maklum lapar. Pikiranku ke mana-mana, ke temenku yang lagi wisuda, ke Emakku yang katanya lagi dioperasi dan seterusnya. Inilah perjalanan, selalu saja ada yang tercecer, tak pernah bisa sempurna. Tapi diam –diam aku menikmatinya, persis seperti saat kuliah dulu, mesti menunggu, mengantri membeli formulir. Persis seperti saat menjadi takmir masjid, demontrasi, mencuci baju, ditolak cewek, kehilangan duit, dan seterusnya. Tak pernah ada yang sempurna, dan jalan yang terbiak tiada lain, kecuali menikmatinya. Persis seperti menikmati perjalanan dan burger yang ada ditanganku saat itu. Perjalanan dan hidup itu seperti kita saat berdiri di cermin bukan? Keduanya mirip, mungkin beda ukuran (tergantung cerminya …kalau ukuranya gede, bisa sama persis :P).

Ceritanya, aku sampai di Austin, aku selalu bersyukur dan merasa beruntung dengan temen-temenku. Mereka orang-orang baik. Aku dijemputnya.

Austin kota yang indah, banyak replica gitar di jalan-jalan, gedung2 menjulang. Jalan-jalan panjang, sungai lebar dan makanan yang enak tentunya. Rumah-rumah mungil dengan orang-orang yang ramah, perempuan yang belari dengan anjingnya, pohon trembesi dan entah apa sejenis cemara. Austin kota yang cukup tua, gedung gedung lancip, malam hari penuh lampu yang kelap kelip.

Aku melihat tanduk sapi di mana-mana, di toko buku hingga makanan kecil di samping apartement temenku.

Aku menikmati semuanya, gerimis yang manis, perlahan mengantar Austin yang meremang, tanda sebentar lagi malam.

Berlanjut…………….

NB: Man arrofa bukda saffaro ista’adda—barang siapa tahu bahwa perjalanan itu jauh, maka dia akan bersiap-siap.

Advertisements

One response to “Perihal Perjalanan (edisi 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s