Emak 1….

Pagi sendiri, pada jari-jari musim hujan yang jail. Di luar sana, pada kaca yang diampit dua kerah jendela, tidurlah tanah basah yang semerbah. Diam-diam rindu mengindap, pada waktu yang sudah mengendap, menelusurinya pun bertabur gelap. Déjà vu, mungkin. Bertahun-tahun sudah, anak kecil pada sebuah musim hujan, sering menatap luar dari sebuah jendela. Seringkali, dia melukis bunga-bunga, pada sebuah kaca yang basah.

Anak itu diam, mengintip saudara-saudaranya bermain sepak bola mungil, dengan tubuh yang agak mengigil, dan sekali lagi, di sebuah musim hujan yang jail. Tak ada mistar pada hari itu, maka batu bata atau tumbu yang rusak biasa sebagai pengganti. Lalu, diam-diam anak itu memegangi kakinya yang kecil, beserta jari-jarinya yang mungil. Lalu, dia pun mengolah hatinya, menyapa kepala lalu kemudian bicara kepada penguasa Saturnus dalam getar bibir, dua bulir air mata dan kemarahan yang terhunus, menatap ke atas letak planet Venus. “Gusti, kenapa engkau kirimkan gerhana matahari total untuk memakan kakiku? Aku ingin naik sepeda seperti keponakanku, ingin main sepak bola seperti kakakku di sana. Di halaman rumah. Gusti!, aku ingin bisa memanjat pohon jambu, seperti teman-temanku”.—bertahun-tahun lamanya aku menyimpan pertanyaan itu, tak lagi berani menengok. Bahkan aku menutupnya, dengan berbagai jargon, semboyan dan segala pemaknaan hidup yang bijak untuk menghiburku. Dan memang, saat-saat setangkai perjalanan hidup yang kadang-kandang jahat, pertanyaan itu sesekali muncerat, tetapi diriku selalu berusaha untuk menyumbat, hingga akhirnya lenyap.

Saya masih ingat betul. Pada sebuah pagi, sosok perempuann kekar, penjual krupuk, dan nasi pecel, dalam bibirnya yang penuh harap dia berkata “koe kudu sekolah, ben pinter, ben iso moco, ben ora dadi koyo emakmu iki”. Lalu perempuan kekar itu menarik anak itu ke emper sumur dan padasan. Dengan tangannya yang kuat, diangkatlah air dari ember, kemudian diguyurkan air itu ke suluruh tubuhnya. Anak itu adalah diriku. Aku pun menjerit “aku emoh sekolah, aku wedi”. Sekolah adalah ketakutan bagi saya saat itu, tentu karena kaki saya. Siapa yang mengantar, siapa yang akan membantuku. Semua tidak jelas. Dan sejarah pun telah bergulir. Setiap pagi sebelum menjual pecel perempuan itu selalu menggendongku ke sekolah di sebelah rumah. Dalam perjalanan sekolah, perempuan itu menghibur diriku menceritakan tentang nabi Ayub walupun kulitnya bau tetapi tetap tabah dan nabi-nabi yang lainnya. Dia juga selalu bercerita, soal kerumunan keong yang selalu cerdik mampu mengalahkan kancil. Aku sangat menyukai cerita itu. Begitulah seterusnya. Perempuan itu adalah ibuku. Ibu yang setiap pagi menggendong anaknya, ke sekolah di sebelah rumah.

Waktu terus berjalan cepat. Anak itu sangat menyukai pelajaran, hingga gelar juara kelas kerapkali disandangnya. Ibuku buta hurup, jadi dia tidak tahu rapot. Dia juga tidak pernah datang untuk mengambilnya karena tidak tahu harus berbuat apa di sekolah tempat orang-orang pintar itu.

Mak, malam ini aku ingin mengenang semua. Waktu-waktu bersamamu dulu. Masih ingatkah saat kau sembunyikan duit di dalam beras agar tak kuambil. Masih ingatkah saat aku dikali, karena takut, aku pulang lewat belakang. Lalu diam-diam aku sudah pakai sarung siap ke masjid sore hari. Masih ingatkah saat kau guyur untuk bangunin aku ke sekolah. Masih ingatkah saat kita bersama dulu di dapur, kau menanak nasi, aku yang goreng bakwan, mengiris sayuran. Masih ingatkah saat di warung gedeg kita, aku cuci piring tapi malah aku pecahin. Mak, malam ini aku masing mengenang semua.
Mak, malam aku ini izinkan aku menangis. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membalas ini. Bagaimana mungkin kau melakukannya hanya demi seorang aku. Saat itu aku kirim surat, kalau pembayaran SPP Pondok Pesantren paling lambat seminggu lagi. Maafkan anakmu. Saat itu aku benar-benar tidak tahu, kalau emak tidak ada duit. Pohon gelugu di belakang rumah, berbagai gerabah di dapur kau jual untuk SPP-ku. Dan kau pun tidak tahu bagaimana mengirimkan uang itu ke aku. Aku minta maaf Mak, sebab siapa yang tahu kalau anak-anakmu yang lainnya pada sibuk pergi ke Malang.

Saya tidak tahu. Lalu kau nekat, pergi ke Jawa Timur sendirian. Dengan pakaian compang-camping, dengan membawa kerdus berisi makanan, uang 250 ribu itu kau simpan di balutan jarik dengan rapat. Takut hilang. Dialah emaku, menyamar jadi pengemis di jalanan. Karena takut dirampok, dicuri uangnya dan seterusnya. Mak!!. Kenapa kau lakukan ini. Hanya demi mengantar uang untuk anakmu, kau jadi pengemis. (Tuhan, aku tidak rela kalau kau masukan dia dalam neraka). Lihatlah dia, sangat baik sekali. Bahkan lebih baik dari nabi-nabi yang dijadikan pedomannya itu bukan?.
Emak adalah Emaku. Nabiku, Cintaku, dan segalanya bagiku. Dulu setiap sore selalu mendengarkan radio pengajian dari kyai-kyai. Tak pernah peduli anaknya berkegiatan apa, tak pernah tahu anaknya sedang baca apa. Mau mencuci sendiri, mau isah-isah sendiri, mau menyapu, dan mau membantu Mbunteli krupuk. Baginya itu anak baik. Mak, malam ini aku ingin meletakkan gelang di tanganku, kalung dileherku. Malam ini aku ingin memasukkan celana jins, kaos Mahatma Gandhi yang selalu aku pakai. Aku ingin masukan buku Richard Dawkin, Christopher Hitchen, dan buku-buku rumit itu di dalam kardus. Biarlah untuk kali ini aku tidak rasional. Biarlah simbol-simbol kemegahan orang kota itu terlupakan sejenak. Ingin melupakan sejenak film-film, kaum difabel, proposal riset, sastra, Yayasan Umar Kayam, SIGAB, PSSAT dan semuanya. Hari ini aku mematikan HP, dan sebentar lagi laptop mungil ini aku tutup.

Aku ingin memakai sarung lagi, sarung yang kau belikan dulu di Pasar Kliwon, saat aku khitanan. Aku ingin memakai peci lagi. Duduk di sebelahmu, memijit pundakmu. Tak ingin kunyanyikan lagu-lagu kesukaanku, Beatles, Buble, White Shoes, the Cure dan semua lagu yang biasa kunyayikan di kota. Hari ini dan mungkin besok, aku mau menyanyikan lagu-lagu kesukaanmu Shalawatan (Sholli wasalim daaiman alah madaa), Lagu munthoharoh Nasidaria Semarang. Sambil memijatmu dan terus mengharap agar aku selalu ada dihatimu. Dengan lirih, aku akan berbisik, dan sungkem padamu, anakmu yang dulu kau gendong ke sekolah di sebelah rumah itu sudah besar. Anakmu yang dulu selalu diejek teman2nya karena tidak bisa jalan itu seminggu yang lalu diberi amanah kesempatan untuk belajar di luar negeri. Mak!!!. Terima Kasih atas semuanya. Ya Allah banyak hal yang biasa aku minta padamu: Proposal risetku keterima, Arsenal Menang, cewek yang aku pedekate mau jadi pacarku, dan banyak lagi, tapi untuk kali ini, aku hanya minta padamu satu hal saja: KABULKAN SEMUA DOA EMAKKU!!! Itu saja!!: Di luar malam semakin renta, lalu waktu pun mensunyi, tepat saat dua bulir airmata ini berlabuh dipipiku yang tidak gemuk.

Kudus, 19 Agustus 2008

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s