Perihal Perjalanan, Kedua

Perihal Perjalanan, kedua
Saya ingin menceritakan perihal diriku yang mencintai perjalanan. Perjalanan pertamaku sendiri aku lakukan saat ke pesantren dulu, lama sekali. Naik bis sendiri, melihat pohon-pohon dari kaca jendela kaca bis, melihat took-toko, gambar gambar dan kabel listerik yang entah sampai mana ujungnya, selalu memanjang.
Kini perjalanan sudah cukup jauh, jauh sekali. Sadarkah bahwa aku berada di tengah-tengah samudra pasifik, sebutir titik yang amat kecil di tengah hamparan biru. Sebagaimana thesis yang mesti kuselesaikan, sebagaimana tugas-tugas kuliah yang mesti aku lalui dan kukumpulkan, hidup ini mesti dilewati dengan senyum menerima hasilnya. Begitu tugas telah kau kumpulkan, itulah kemampuanku, jadi hargailah aku mesti menghargai diriku sendiri. Kira-kira begitu saja untuk mensederhanakan-nya. Lewati saja hidup, begitulah. Sudah. Jadi bekal buat selanjutnya. Lalu hiburlah diri sendiri bahwa semua adalah proses yang belum usai 

Jalan2 yang lalu telah aku lewati, Yogya, Klaten, Solo, Sragen dan kemudian kota-kota yang lainnya. Singgahi kota-kota, Seoul, menikmati sebotol Shouju, lalu mampir ke Kyoto makan Mie Soba dan seteguk sake, balik lagi ke Honolulu, melihat pelangi di pagi hari sambil senyum-senyum sendiri. Ada banyak hal yang kita jumpai, ada banyak hal yang bisa kita baca, semua hal adalah tanda.
Biarlah berlalu, sudahlah. Kujadikan aja bekal2 yang menarik. Saatnya untuk menghibur diriku sendiri, bahwa perjalanan yang baik selalu punya banyak cerita dan heboh sendiri.
Minggu depan aku mau melakukan perjalanan lagi. Ke Texas dan Arizona 😛 sebagaimana anak muda, aku selalu tergesa-gesa, penuh dengan rasa keinginan tahu, meluap-luap, gembira, ceroboh, semangat heboh sendiri dan tentu diakhiri dengan sebuah hal: pelajaran. Itulah perjalanan, selalu diakhiri dengan itu 
Sebagaimana lapak-lapak hari kita….ada banyak pelajaran. Di luar pagi sangat ranum, burung kecil terlihat dari kaca jendelaku. Selamat Pagi Honolulu…Selamat Pagi Tuhan…I Love You Full. Sekali lagi terimakasih Tuhan. “man arofa bukda safari, fazta’ada” siapa tau perjalanan itu jauh maka dia akan berispa-siap. Maka tidak ada alasan untuk tidak bersyukur untuk semua ini. 

Back to my thesis 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s