Nasionalisme, Pandangan Difabel

Nasionalisme, Produk Siapa?

Ini masih terkait dengan refleksi soal ke kemerdekaan. Balapan karung, panjat pinang, hingga hapalan menghapal sifat “wajibe Gusti Allah”. Yang saya ingat soal 17-an adalah upacara bendera. Dulu, saat SMP, saya agak jarang ikut upacara bendera. Alasannya, saya Difabel.(heheheh) Capek, dan panas. Sekali lagi ini masalah Nasionalisme, dan itu tidak bisa pisah dengan namanya “negara-bangsa”.

Bangsa, kata Sejaharawan Marxis asal inggeris itu “…the idea of `the nation`, once extracted, like the mollusc, from the apparently hard shell of the `nation-state’, emerges in distinctly wobbly shape..”(kutipan dari kholid) Moluska (sejenis kerang), sekali dibetot keluar dari tempurung ‘negara-bangsa’ yang nampaknya keras, segera menyembul sosok yang sama sekali rapuh.

Bagi saya ini benar. Dalam altar sejarah, negara bangsa merupakan produk cita-cita keperkasaan, “kenormalan” dan kekerasan. Perjanjian Westphalia tahun 1648 (kalau gak 1646), adalah “tetenger” yang namanya negara itu ada. Perlu diingat, perjanjian ini merupakan akomodasi untuk perang yang berdurasi 30 tahun. Perang selalu ada disana tentara, keperkasaan, kelelakian. Yang lemah-lemah kayak difabel, akan tersisih, sejak dalam pemikiran. Rasa sentiman kenegaraan musti diakui, tak bisa lepas dari gerakan komandan Marthin Luther, yang merestui pembunuhan bayi-bayi difabel karena dianggap sebagai sebagai “titisan setan”

Yang namanya negara atau bangsa tentu erat dengan bagaimana membangun kekuatan erat akan identitas. Lalu munculah “nasionalisme”. Imajinasi, kata Om Ben, adalah punggung utama dari nasionalisme. Bendera, lagu-lagu, ilmu pengetahuan, dan sejarah yang dipermak dan ditata sedemikian mungkin. Masa lalu dihadirkan, realitas dipungut, dipilah, dan disistematisasi untuk kepentingan sang megalomanian (para elit). Normalisme terus berlanjut. Perang dunia kedua (1939-1946) merupakan bukti sejarah. Kegagahan, keperkesaan, kekuatan dan normalisme tampil dalam wajah tentara-tentara. Dan buah dari normalisme pun terlihat, sekitar 291.557 tentara AS mati, 357.116 tentara Inggris, dan lebih dari 1 juta tentara China hilang. Lebih dari 3 juta tentara Jerman menjadi korban. Belum lagi negara-negara lain, terlebih negara dunia ketiga.

Jutaan orang menjadi difabel, bahkan gugur sebagai korban perang yang paling besar sepanjang sejarah umat manusia itu. Bahkan setelah Bom atom diledakkan, ribuan orang binasa, akibat keangkuhan normalisme. Banyak warga negara yang menjadi difabel, bahkan menimbulkan efek kultural yang panjang. Hibakusa, orang-orang yang menjadi difabel karena efek nuklir di Jepang, dijauhi dan terkucilkan. Bahkan anak turun Hibakusa sulit mendapatkan pekerjaan atau pasangan.

Roosevelt sang Presiden, namun di tengah perjalanan, dia mengindap polio. Dan kursi roda pun menjadi teman yang paling akrab. Namun, demi menjaga keoptimisan orang banyak, tampaknya lebih utama dari kejujuran realitas. Terlebih karena masyarakat yang sedang dilanda depresi. Semua gambar Roosevelt dengan kursi roda hilang. Dari ribuan gambar baik photo maupun film, sejak tahun 1928 hingga maut hinggap dirinya saat duduk di kantor tahun 1945, hanya ada dua photo dia memakai kursi roda. Itupun baru ditemukan akhir-akhir ini. Olalala..

Ini merupakan bentuk “pengenyahan the weakest” demi sebuah kepentingan public yang lebih luas: ke-optimisan masyarakat pada sebuah negara. Bentuk kejam tindakan salah satunya adalah doktrinasi rasial kaum arya oleh demagog Jerman, Hitler. Orang-orang difabel, bersama kaum gay, dan Yahudi dibinasakan, dianggap sebagai “the “useless eater”. Mereka dihembuskan begitu saja. tak tersisa.

Sukarno yang modernis, tergila-gila dengan kerapian, kemegahan. Impian-impian kegagahan tercermin dalam proyek-proyek besar: Monas, Isttiqlal, dan halaman luas disediakan untuk tentara-tentara yang gagah. Sukarno adalah Sang megalomanian, optimistis, pendamba kerapian, pengagum bangunan-bangunan Soviet yang gagah, dan perkasa. Patung-patung monumental bernada misi kegagahan, dan keperkasaan dipasang di banyak sudut kota.

Demikian pada masa Orde Baru: era kekuasan militer yang tentu sangat mendaba akan sebuah kota, dan negara “normal”. Demi kepentingan kekuasaan dan suksesnya program-program develpomentalisme. Orde Baru secara terang benderang melakukan political surveillance, dan politik tubuh demi kepentingan kuasa. Tubu-tubuh pun ditata, dipisahkan, di-liyan-kan dari orang biasa. Sekolah-sekolah khusus dibangun, dibedakan menurut jenis difabelitas. Sebagaimana istilahnya “Sekolah Luar Biasa” yang sarat dengan kuasa, kehadiran sekolah-sekolah khusus merupakan politik pengontrolan, simplikasi, dan tentu saja pendisiplinan demi sebuah kota/negara yang rapi dalam matrix persepsi “orang-orang normal”.

Negara Bangsa… Produk Kuasa orang Normal…? Mungkin.

NB: Maaf, perspektif difabel telah merasuk ke pikiran saya sangat dalam. Jadi kadang sangat spontanitas untuk menilai sesuatu, tanpa memperhatikan hal-hal lain yang semestinya juga penting. heheheh. Maaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s