Mendengar Gus Dur Soal Difabel

Gus Dur, Pejuang Kaum Difabel[1]

Slamet Thohari adalah seorang difabel (different ability, orang dengan kebutuhan khusus). Kakinya terkena polio sejak ia berumur dua tahun. Lelaki kelahiran Kota Kretek, Kudus, 19 Nopember 1983 itu harus menggunakan tongkat atau kursi roda agar bisa berjalan. Aksesnya terbatas. Ia tidak bisa seperti orang lain yang begitu mudah mendapatkan akses.
Meski begitu, ia tidak pernah mengeluh atas kondisi fisiknya itu. Soal pendidikan tetap Amek (begitu panggilan akrabnya) nomor satukan. Selepas menyelesaikan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Kudus, ia hijrah ke Ponorogo meneruskan studi di SMA setempat sembari belajar di Pesantren meski tidak tuntas.

Tahun 2001, ia diterima di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Tak hanya berkuliah, ia juga menjadi aktivis tulen di kampus itu. Dengan dua tongkat yang selalu ia bawa ke mana-mana, Amek pernah berderma pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai Ketua PMII Rayon Filsafat UGM. Amek juga pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Jurnal Tradem PMII Cabang Sleman. Tahun 2006, ia lulus dari UGM dengan predikat sebagai lulusan terbaik.
Sadar sebagai bagian dari kelompok difabel, Amek merasa penting memperjuangkan kelompoknya. Ia berkesempatan menggaungkan hak-hak kaum difabel itu di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Tahun 2008, Amek melanjutkan studi di Jurusan Disability Studies, University of Hawaii at Manoa, USA.

Terkait dengan hak-hak kaum difabel yang kerap dikesampingkan, Amek jelas menyayangkan sikap tersebut. Hampir semua konstruksi pemikiran atau bangunan mesti dibangun di atas nilai-nilai “kenormalan”. Tak ada akses bagi kelompok ini. Dalam situasi tersebut, bagi Amek, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah orang yang memiliki kepekaan terhadap kelompok difabel. Bisa jadi hal ini dimungkinkan karena Gus Dur juga seorang difabel, tetapi ketajamannya atas akses kaum difabel sungguh suatu yang luar biasa.

Berikut ini petikan wawancara Tedi Kholiludin dari Lakpesdam NU Jawa Tengah dengan Slamet Thohari pada 1 Februari 2010 kemarin.

Bagaimana pandangan anda sebagai seorang difabel terhadap Gus Dur?

Gus Dur di mataku adalah “pintu gerbang” bagi pemenuhan hak kaum difabel. Mereka mesti berjuang mendapatkan hak-haknya. Perlu diingat bahwa Gus Dur sendiri dihadang naik presiden karena kebutaaannya. Tetapi toh dia tetap ngeyel. Selain itu kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan saat Gus Dur menjadi presiden sangat sesuai dengan apa yang diperjuangkan oleh kami. Seperti apa contoh kebijakan itu? Dua hal yang menurut saya sangat signifikan, GAUN (Gerakan Aksesibilitas Umum Nasional) dan membubarkan Departemen Sosial. Tentu banyak lagi yang lainnya. Tapi dua hal itu cukup berarti bagi perjuangan kaum difabel. Gus Dur juga memasang aksesibilitas di mana-mana. Satu contoh misalnya, aksesibilitas di Stasiun Gambir yang sekarang justru diabaikan oleh pemerintah.

Bisa digambarkan efek langsung dari GAUN itu terhadap kaum difabel?

Efeknya, ya pada akhirnya banyak publik tahu bahwa aksesibilitas itu penting, ada orang yang namanya kaum difabel.

Maksud saya, bisa diceritakan poin penting dari GAUN itu yang berimbas langsung kepada kaum difabel?

Ya soal aksesibilitas itu. Karena bagi kaum difabel, yang paling utama dalam aktifitas mereka adalah soal aksesibilitas yang kerap diabaikan.

Lalu apa relevansi pembubaran Departemen Sosial bagi difabel? Mengapa kok ada kaum difabel seperti Anda yang tak bersahabat dengan departemen ini?

Bagi kami, Departemen Sosial itu menjadi soal karena mereka adalah kaki tangan pemerintah. Yang lain karena persoalan paradigmatik. Departemen Sosial menilai difabel bagian dari masalah sosial. Seharusnya tidak begitu, difabel mesti dibaca dalam analisis Hak Asasi Manusia (HAM), bukan dibaca sebagai “deviance”. Masa, difabel disamakan kayak korban kebanjiran dan lain-lain. Nah, Departemen Sosial itu ibarat “bagian” dari proses “enforcing normalcy”.

Apa itu Pak Slamet?

Ya meneguhkan ke-normalan. Asumsi pemerintah kan selama ini menganggap kaum difabel sebagai orang yang tidak normal, maka perlu dikasihani. Nah, Departemen Sosial itu sebagai agen untuk itu. Padahal difabel bukan dikasihani tapi diberi haknya. Nah, ketika Gus Dur membubarkan departemen itu, bagi saya ini langkah maju.

Apa sebenarnya masalah utama kelompok difabel selain soal akses?

Ya dianggap tidak normal itu. Mindset orang-orang “normal” seperti Anda mungkin yang menilai bahwa difabel itu tidak normal. Celakanya, bias-bias normalitas ada di mana-mana. Lihat saja misalnya, apakah gedung di IAIN Semarang ada yang aksesibel. Tidak ada kan? Nah gedung itu sangat bias normal, dibangun dari semangat kenormalan. Kalau seandainya yang membangun itu orang difabel pasti tidak begitu. kalau seandainya alam pikiran masyarakat tahu bahwa ada difabel, maka saya jamin mereka akan memasang tangga khusus dan alat-alat khusus lainnya.

Gus Dur termasuk orang yang peka terhadap hal itu? Begitukah?

Iya. Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah gedung paling aksesibel di Jakarta. Di sana, ada ramp-nya, ada huruf Braille di elevatornya, ada juga fasilitas suara dan lain-lainnya. Jadi bagi saya kalau ada orang berbicara tentang demokrasi, HAM atau pluralisme sementara kantornya belum aksesibel, ya percuma.

Ada yg tersisa dari perjuangan Gus Dur bagi kaum difabel yg belum terlaksanakan?

Gus Dur adalah orang yang sangat peka difabel. Namun, bisa dikatakan beliau belum bisa dibilang sangat serius. Tapi harus diakui dia peka soal itu, dibandingkan presiden-presiden lainnya. Bisa jadi karena dia difabel dan mungkin ada inspirasi dari
negara-negara lain yang mempraktekkan hal serupa. Walaupun begitu, gagasan utuh Gus Dur soal difabel belum sepenuhnya terbentuk. Hanya saja dia peka dan mengerti dan terlibat dalam memperjuangkannya. Sementara gagasan utuh soal pemikiran-pemikiran difabel dia belum punya.

Ada pesan untuk masyarakat NU terkait dengan Gus Dur dan difabel?

Lihat sekeliling Anda. Mari sama-sama memberikan hak bagi kaum difabel. Cintai mereka dan lihatlah sebagai manusia biasa, sama seperti kita.

Secara kelembagaan, apakah NU
sudah memenuhi harapan tersbut?

Jelas belum . Contoh paling kecil ya, sepengetahuan saya belum ada pesantren yang aksesibel. Perbincangan tentang difabel belum banyak dibahas. Tidak ada hokumhukum agama menyentuh ini. Mana ada mesjid yang aksesibel? Dan ini tentu bukan hanya persoalan NU, tapi masyarakat secara umum. Intinya, Indonesia jauh dari pemenuhan hakhak kaum difabel.

Soal Hukum Agama, apa Contohnya?

Contohnya, bagaimana hukumnya imam bagi orang tuli. Lalu bagaimana hukumnya membaca dengan tajdwid bagi tuna wicara. Yang lainnya misalnya bisa dicontohkan apakah saya harus wudlu,sementara tempat wudlu licin sekali, padahal kaki saya polio? Bahkan Al-mawardi dalam Al ahkamu Al-sultoniyah melarang difabel jadi pemimpin. Tepatnya di halaman 4, jelas di sana ada hukum wajib alhawas bagi pemimpin.

Jadi tafsir agama sesungguhnyamasih bias “normal”?

Ya kurang lebih seperti itu.

Lalu apa pesan moral yg ingin disampaikan oleh aktivis difabel seperti Anda bagi Organisasi keagamaan seperti NU?

NU haru memulai dari bawah. Dengan pelan-pelan mengajak difabel dan masyarakat bersatu, Inclusive society, bahasa akademiknya. NU secara rutin haru memulai mengajarkan masyarakat perlunya hak-hak difabel. Dan ini dimulai dengan memberikan hak yang sama bagi akses-akses NU seperti pesantren, madrasah dan lain-lain. Dan itu bisa dimulai misalnya dengan mendirikan pesantren yang aksesibel dan madrasah yang aksesibel atau inclusive bagi difabel. Atau menyisipkan kaum difabel dalam pengajian-pengajian, biar masyarakat sadar akan kehadirannya.

[1] Tulisan ini dimuat dalam Buletin Gapura (diterbitkan Lakpesdam NU Jawa Tengah), Edisi V/2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s