Kita Telah Membunuh Basyir dan Slamet!

Kita Telah Membunuh Basyir dan Slamet!

Dua hari yang lalu, saya menonton berita. Seorang bocah bernama Basyir, meletakkan seikat tali melengkung di lehernya, Lalu sek, mati dech. Basyir bunuh diri, alasanya sungguh sederhana, tapi besar bagiku. Dia ingin melanjutkan sekolah ke SMU tapi bapaknya tidak kuat. Mungkin dia malu pada teman-temanya, lalu dia putus asa mengejar mimpinya.

Sekitar dua tahun yang lalu, di sebuah berita, yang juga diabadikan Gunawan Mohammad dalam sebuah catatan pinggirnya. Slamet, penjual gorengan melakukan hal yang sama, karena hutang yang melilit, maka hidup harus berahir, atau diahiri saja. Hidup begitu culas, dan bringas. Tepat setelah Slamet mengakhiri nafasnya, beberapa hari kemudian tersebar di beberapa Koran salah satu anak bangsa kita dan Pendekar Indonesia, Mutsayar Republik Freedom Institute, Abu Rizal Barie, diberikan gelar oleh Forbes sebagai orang paling tajir se Asia tenggara. Busyeeet.

Inilah negeri dengan 17 ribu pulau. Dengan berbagai ragam, masalah yang belum juga usai dan mungkin tak akan pernah usai. Slamet dan Basyir adalah produk dari ruwetnya negeri yang hampir musnah penuh dengan masalah: transportasi yang amburadul, selokan kota yang tidak berfungsi, tata kota yang acak-kadud, irigasi yang tak tertata, system pendidikan yang morat-marit, pemukiman kumuh di mana-mana, pengangguran yang merajalela, korupsi yang terjadi setiap menit. Atau jutaan orang yang dirampas hak tinggalnya, hak kulturalnya, hak ke kuburan, bahkan masa lalunya..mau tahu..lihatlah kasus Porong, Lapindo telah membinasakan ribuan hak orang, bahkan membinasakan suara mereka untuk sekedar berkata “mana uang ganti rugiku”.

Kota di Indonesia, sebuah kota yang sakit, penuh dengan masyarakat yang sakit. Sudah tahu bahwa negeri kita ini daerah volcano, tak juga belajar tentang bagaimana menangani bencana. Sudah tahu, sering banjir tak mau juga belajar soal manajemen kota dan pengairan, sudah tahu banyak selokan mampat, sawah-sawah kering karena system irigasi yang ketinggalan zaman, aaah, mana ada saudaraku yang berbondong-bondong mempelajari itu. Atau mempersiapkan diri untuk menyelesaikan itu.
Banyak sudah makanan makanan lokal yang hilang, kemanakah Getul Lindri, kemanakah Hawuk Gawuk. Sudah tahu bahwa Jakarta itu menyebalkan, sesak, dan busyeet, banyak Nyamuk, masih saja saudara-saudaraku itu berjejal ke sana: Mengadu nasib, mengantri menjadi tokoh, dan itulah yang terjadi. Meninggalkan daerah daerah dalam kesuwungan, Ah Urbanisasi…masalah usang yang tak selesai-selesai. Jika Anda ingin lebih gaul sekaligus digigiti Nyamuk, Datanglah ke Jakarta. Hehehhe. Jakarta adalah mimpi anak desa dari Pati atau Wonogiri, Dari Kalibening atau Kaliurang, dari Bengkulu hingga Palu. Menyerbu Jakarta…karena mimpi….mungkin hendak menjadi tokoh, atau sekedar ingin mewujudkan cita-cita menjadi intelektual atau hanya seorang penjual.

Slamet dan Basyir tentu adalah korban keangkuhan kelas menengah. Mungkin kau boleh saja menulis bahwa Slamet dan Basyir benar-benar bunuh diri. “dia bunuh diri, jadi itu salahnya sendiri”. Lalu dicatatlah dalam Koran-koran bahwa dia benar-benar bunuh diri. Tentu itu benar! Dan syah secara hukum demokrasi..tak perlu ada yang dihukum, tak perlu ada yang disalahkan, jelasnya tak ada yang mengganggu Slamet dan Basyir. Baru kalau Slamet atau Basyir menggores mobil Anda..tangkaplah mereka, karena mereka menganggu milik Anda..hehehe, tapi aku mau bertanya wahai sodaraku, Slamet dan basyir tentu bukan orang yang bodoh ingin mengakhiri hidup yang indah dengan harum pagi ini..tapi diam diam kelas menengah itu membunuhnya, diam-diam kelas menengah telah memaksa bersaing, beradu nasib yang lebih seru dari adu jotos, berebut menjadi yang paling atas, lalu jika sudah begitu jalan apapun dituju: menyuap, menyinkirkan yang lain dan apa saja. Jika jalan menjadi intelektual “murni” (kayak susu), tak mampu mengantarkan menuju puncak, banyak saudara-saudaraku yang mengalihkan menjadi penjual..”ini perjuangan, sudah saatnya kita tidak menulis kita butuh politisi-politisi yang bervisi” begitu kata teman-temanku…bahkan saudaraku.

Slamet dan basyir adalah korban kitaa-kita saudaraku, yang melupakan menata kota, yang melupakan menata selokan, yang melupakan menyiapkan kota jika ada bencana, yang melupakan irigasi, pengairan, teknologi hasil pangan, yang melupakan aksesibilitas kaum difabel, yang melupakan bahwa hidup di daerah menganbdi ke masyarakat itu penting, yang melupakan bahwa negeri ini butuh orang pandai yang disebar, di mana-mana: di timur, barat, selatan, bukan cuman di jawa, apa lagi Jakarta!
Saudaraku, Slamet dan Basyir telah kita bunuh!. Kita sibuk memikirkan demokrasi, kita sibuk memikirkan bangsa atas ini dengan atas nama kemanusiaan, atas nama keilmuan, dengan keringat deres mili bahwa sebenarnya kita membangun diri sendiri. Kita telah capek ria dengan atas nama kemanusiaan dan demokrasi, tapi sebenarnya kita tahu bahwa alasan utama adalah ingin diri kita sendiri yang dimuka dan dipuji..sebab itulah kompetisi! Iya Kan? Lalu, Slamet dan Basyir terbuang dari kompetisi ini..mereka telah kita Bunuh!.

Wahai sodaraku…sebelum kau tidur, lihatlah dirimu sendiri..sudah sejauh mana engkau ini…bayangkanlah seumpama engkau mati, orang-orang akan membincangaknmu sebagai apa? Sebagai seorang intelektual, sebagai seorang pemimpin besar, sebagai orang kaya raya, dan seterusnya. Lalu engkau mewujudkan agar orang2 melakukan itu..dan saat itulah kau telah memulai..berjuang menjadi besar..membunuhi yang lain..mengalahkan yang lain…aaaaaaaaaaaah. Kita ini pembunuh! Ya kita pembunuh!

Tuhan berikanlah aku dan orang-orang di sekelilingku ihlasmu ………..dan saat kami mati nanti, aku ingin orang orang mendoakan kami. (mereka membincangkan apa tentang kami, itu sudah tidak penting lagi) Sebab aku paling takut jika tidak ada ridlo darimu. Itu saja!

Honoluu, July 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s