EMAK III

EMAK 3

Hari itu adalah musim yg jahil, mengigil. Hujan menderas, dari langit yg luas. Jelang umurku  yg ke enam, dari balik kaca jendela aku menggambar bunga-bunga di atas kaca yang basah: di luar sana kakak-kakak-ku bermain sepak bola di halaman rumah, tentu sambil hujan-hujan.

Ada banyak hal yg sulit aku ucapkan, malu dan gengsi dg sodara2ku untuk ku katakan. Ada banyak hal yg karena keminderanku sebagai difabel, aku menjadi salah tingkah. Kadang, ingin sesuatu tp malu, dan tidak tahu, atau barangkali takut. Tapi Emak selalu tahu, pada hal yg belum ku-ucapkan sekalipun.

 

Beberapa sodaraku sering pergi bersama: memancing atau ke kota. Mungkin aku yg terlalu kecil untuk diajak atau karena aku tidak pernah diperhitungkan mereka. Diam di rumah, sendiri dan pura2 tangguh dengan kesendirian. Temen2ku pergi ke pasar malam, bergerombol rame-rame, beli jagung, nonton tong setan, atau  naik dermolen. Itu terlalu jauh bagiku, lalu sekali lagi kesendirian menempaku lagi. Berbagai kata penghibur kurajut untuk meneguhkan diriku bahwa aku kuat dalam kesendirian.

Pada saat-saat seperti itu dadar telur dan bakso selalu di atas meja sesekali soup ikan atau pecelan gambas. Jika sudah begitu, aku pun gembira.

 

Honolulu, sedang ujian!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s