Belajar dari Nasida Ria

Pluralisme, Belajar dari Musik Ndeso, Nasida Ria

Slamet Thohari

Jujur saja, saya menyukai lagu-lagu Nasida Ria. Perkenalan saya dengan Nasida Ria tentu mulai Emak saya, dulu sekali saat di desa. Lagu-lagu Nasida Ria selalu diputar sebelum ada pengajian di masjid sebelah rumah, di sunatan kakaku, sunatanku dan acara pernikahan. Hampir seluruh kampung melakukan pemutaran music-musik Nasidaria setiap mempunyai hajatan: sunatan, pernikahan, pengajian atau syukuran mau haji.

Setiap group music ini di putar di TVRI, kami buru berlari melihat TV, biasanya di sore hari. Sama halnya dengan saya, pemuda-pemuda di kampung saya juga mencintai lagu Nasida Ria. Setiap ada sunatan, Selain menyuguhkan khataman Al-qur’an, pemutaran video filem2 pendekar, juga pentas “orjen tunggal” (kami biasa menyebut begitu) yang menyanyikan lagu-lagu Nasida Ria. Lagu lagu Nasida Ria begitu mistis, tapi menggembirakan. Mudah dihapal dan bisa dinyanyikan rame-rame.

Di Laptopku kini, koleksi Nasida Ria sangat banyak, terkadang setiap pagi sebelum berangkat ke kampus, aku memutarnya. Adem ayem rasanya. Apa Menariknya Nasida Ria? Perlu diketahu, Nasida Ria adalah kelompok music yang lahir dari masyarakat pedesaan, santri khususnya. Letaknya di sana, di Kaliwungu Semarang. Semua musisinya perempuan. Mereka main gitar, biola, kendang dan alat-alat music modern lainnya. Tentu ini sebuah revolusi, mengingat saat2 kelahiranya tahun 80-an music bagi masyarakat santri adalah masih menjadi barang yang sulit ditrima, bahkan tak jarang di antara kiyai-kiyai itu banyak yang mengatakan haram hukumnya.

Namun sang manajer, KH Bukhori dan Mbak Mudrikah Zain (konon ini temannya Mbak Zahroh, kakak ipar saya sewaktu mondok di Kajen Pati) sangat lihai transformative dan membumi. Gaya dan liris music disesuaikan dengan kemungkinan-kemungkinan selera masyarakat pedesaan. Dia berpikir keras, bagaimana berdakwah (mengajak) kebaikan dengan bahasa masyarakat desa, mudah ditrima dan sekaligus menghibur.  Keinginan mereka untuk membangkitkan semangat manusia Indonesia di level bawah sangat kuat dan berujung dengan baik. Lirik lagu-lagunya sangat mendukung bagi terciptanya sebuah system masyarakat yang damai dan rukun. Lihatlah salah satu lirik dari lagunya yang berjudul “Ham Ham Ham” (silahkan di cari di Youtube, Ham ham ham nasida ria).

Manusia, diciptakan, oleh Allah yang maha kuasa

pria wanita, tiada beda, hak asasinya sama.

Kulit putih, kulit hitam, kulit kuning dan sawo matang,

apapun sukunya, apapun bangsanya hak asasinya sama.

Marilah kita hormati hak asasi manusia,

agar damai hidup ini aman tentram dan sentosa

Jelas sudah, lagu-lagu ini sangat jauh melampui zamanya. Mungkin iwan Fals, tp Iwan Fals tak bisa dimengerti oleh ibu2 ndeso dan penduduk  ndeso yang jauh dari peradaban. Nah, Nasida Ria mampu menembus itu. Menebarkan “petuah-pertuah” yang zaman sekarang banyak didengungkan, yang sekarang banyak diperjuangkan sekaligus banyak di langgar. Jauh sebelum ada LSM-LSM yang konsen pada isu-isu HAM, Nasida Ria sudah blusak blusuk masuk kampung menyuarakan HAM, dengan sangat sederhana.

Simak pula pada lagu Damailah Palestina yang bisa ditemukan di sini: http://www.youtube.com/watch?v=eCneq2JBxS0 lagu ini simple, dan sangat mistis. Menganjurkan kedamaian dunia, agama, yang merupakan sumber konflik di palestina menjadi sasaran. Lalu Nasida Ria menganjurkan untuk berdamai bukan dengan cara menyalahkan Israel dan tidak pula mengagung2kan Islam. Namun dengan penuh perasaan, kembalilah ke ajaran agama masing-masing bahwa perdamaian adalah ajaran setiap agama. Wahai umat Yahudi, kembalilah ke kitab suci taurot, Wahai Umat Nasrani kembalilah ke kitam suci Injil, dan Wahai umat islam, kembalilah ke kitab suci alqur’an. begitu kata Nasida RIa. Semuanya menyerukan kedamaian.

Tengok pula lagu Tahun 2000,

Tahun kerja serba mesin, berjalan berlari menggunakan mesin, manusia hidup berkawan mesin, makan dan minum dilayani mesin.

Penduduk makin banyak, sawah ladang menyempit, mencari nafkah makin sulit, tenaga manusia diganti mesin, pengangguran meraja lela.

Sawah ditanami gedung dan gudang, hutan ditebang jadi pemukiman, langit suram udara panas, akibat pencemaran.

Lagu ini sangat futuristic . Mereka bicara perubahan zaman, perubahan ekosistem, lingkungan, dan bahkan climate changes. Jauh sebelum Walhi  atau orang2 yang rame2 bicara perubahan iklim dan globalisasi. Dulu sekali, Nasida Ria memperingatkan orang2 desa untuk siaga, bahwa aka nada dunia yang rusak-rusakan, ada pemanasan global, ada hutan yang akan dilibas dan seterusnya.

Simak pula lagu-lagu Perdamaian-perdamian, yang  rilis ulang oleh Gigi. Simak pula lagu rumahku keluargaku yang memberikan petuah bahwa kita mesti memulainya dari keluarga. Dan seterusnya. Ada banyak sekali lagu-lagu Nasida ria yang enak didengar, sederhana liriknya dan sangat kuat maknanya.

Nasida Ria jelas memberikan perubahan besar. Mereka menebarkan prinsip-prinsip kemanusiaan ke masyarakat bawah dengan bahasa yang mudah dengan menghibur.   Prinsip-prinsip yang diusung tak sama halnya dengan para akademisi, intelektual dan kalangan LSM belakangan ini. Namun tentu ada bedanya? Lantas apa beda antara mereka dan Nasida Ria? Nasida Ria mempromosikan dan melakukan perubahan dengan bahsa kerakyatan, sedang akademisi, intelektual dan LSM dengan bahsa langit. Seminar bulanan, bedah buku, konferensi, penelitian dan bahasa2 yang rumit, tak pernah tersentuh oleh grassroot. Nasida Ria memahami bahwa masyarakat santri adalah modal besar yang mampu digunakan untuk menopang perubahan untuk Indonesia yang lebih baik, untuk itu penting bagi mereka untuk menjadi bagian dari masyarakat itu. Sedang LSM, akademisi, dan intelektual kebanyakan ber-circle dikalangan mareka sendiri, terus2 ngadain diskusi, yang datang ya itu-itu aja, memperbaiki CV, mencari konfrensi di luar negri, menulis buku yang rumit, menulis di koran yang rumit, dan jika ada konflik mereka memberikan statementGubrak!

Menurut Anda, Layakah Nasida Ria menjadi pelajaran buat kita, mengingat banyaknya kekerasan yang berbasis agama belakangan ini? Entahlah ini cuman pendapatku, wong Ndeso! setidaknya aku merasa tertampar oleh Nasida Ria, karena selama ini terlalu Elitis, bagaimana dengan Anda?

Honolulu, pagi hari. Habis mengerjakan dan ngumpulin tugas!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s