Emak, sebentar lagi bulan puasa, dan setelah itu, seperti biasanya, pasti lebaran tidak seperti tiga lebaran yang berlalu, aku tidak ada di rumah. Anakmu pergi, jauuh, menemui jalan2 panjang, salju, pantai, gedung-gedung lancip: New York, Honolulu, Tokyo, Texas, Huston, San Antonio, Austin, Taiwan, Malaysia, Singapore dan seterusnya. Ah Perjalanan itu telah selesai. Anakmu sekarang bergelar master, lulusan luar negeri hehehhe.
Emak, anakmu sekarang menjadi dosen, tepatnya di Universitar Brawijaya
Malang
Sepertinya Emak menyukai ini bukan?. Bukankah Emak dulu bilang kalo Emak seneng aku jadi Guru?.
Anakmu juga melanjutkan cita-citanya, menghibahkan diri untuk menggeluti dunia difabel, atau banyak orang bilang orang cacat, seperti anakmu ini.
Aku ingin menceritakan padamu, bersama temen-temen, kami membentuk pusat studi dan layanan disabilitas, memplajari isu-isu difabel, memberi pelayanan terhadap difabel dan juga membuka pendaftaran khusus dan memberikan beasiswa difabel. Bersama temen-temen juga anakmu membikin pesantren yang inklusif terhadap difabel dan yayasan yang mengurusi difabel.
Emak, sekitar sebulan yang lalu, anakmu diam2 menangis. Tepatnya pas Pak Rektor membuka program khusus seleksi bagi difabel dan membuka kesempatan beasiswa seluas-luasnya buat mereka untuk kuliah. Jujur, ini bagaikan mimpi! Jadi, difabel bukanya susah dan ditolak2 lagi oleh kampus, tapi kami justru susah mencari difabel Mak.
Aku menangis, karena ingat saat itu, saat Amex kecil menangis, mau kuliah tak ada dana, takut dengan kampus yang gedungnya tidak bersahabat, takut dengan prasyarat sehat jasmani rohani, sedih dengan keadaan kita yang tak mampu untuk membiayai pendidikanku.
Aku mengingat saat susah mencari kos, saat daftar UMPTN yang bingung mencari tempat tidak ada yang mengantar, susah dengan transportasi, dan seterusnya. Aku menangis tak percaya bahwa sekolah bagi difabel kini di depan mata, difabel tak lagi susah sepertiku dulu.
Emak, malam ini aku mengenang saat kau tebangi pohon kelapa di belakang rumah untuk biaya SPP pertamaku dan uang saku ke Jogja
saat kau hutang ke saudara untuk memberikan uang untuk naik bis ke sana, ke kota pelajar. Aku juga mengenang pertama kali aku meninggalkan rumah gedeg kita, mencium tanganmu terus pergi dengan masih terngiang di telingaku “Seng ati-ati yo nang”!
Emak, malam ini aku kangen engkau gendong di pundakmu, ke sekolah seperti dulu. Kangen dengan gendonganmu ke Pasar Kliwon untuk beli baju baru dan sarung baru beberapa hari sebelum lebaran.
Emak, seminggu yang lalu aku keliling-keliling jawa timur: Mojokerto, kediri, Surabaya, Tulungangung dll, mencari difabel agar mau kuliah di Brawijaya. Ada banyak orang sepertiku, kesusahan mencari pendidikan. Mreka mengingatkanku dulu. Ada air mata bahagia di antara mereka mendengar kabar sekolah buat difabel ini. Emak, aku ingin menjadi seperti Emak, yang menggendong anakmu yang difabel, aku ingin menggendong mereka, bersama2 berjuang agar difabel menjadi lebih baik, mendapatkan kesempatan bersama. Ya Allah, terimakasih telah kau jadikan aku menjadi bagian proses ini. Terimakasih Kang Fadilah Putra, Pay, Bu Shinta, Pak Dokter Eko, Wawa, Pak Wayan Pak Iwan, dan mahasiswa-mahasiswaku yang baek.! Semangat!
SUKSES TERUS BRO. TERIMAKASIH SUDAH MEMBANTU MANUSIA YANG LAIN. AKU DAN EMAKMU BANGGA PADAMU!
TERIMA KASIH SUDAH MEMBANTU KAMI.
SAYA TERHARU, BANGGA.
SAYA SUDAH KIRIM EMAIL KE ALAMAT BAPAK.
TOLONG DIBALAS YA.
SAYA SANGAT MEMBUTUHKAN BAPAK.
TERIMA KASIH
mengharukan bacanya..
semoga saya pun bisa lebih bermanfaat. makasih share kisah hidupnya, Mr. Dosen..
kok episode kunci ketinggalan nggak ada mex lol
alhamdulilah unbraw membuka beasiswa tux difabel. gak kayak jaman dulu difabel susah bgt! walo hanya mau pinter!